BACA JUGA : Program MBG Perdana Digelar di Kabupaten Gunungkidul, Siswa Terlihat Sangat Antusias
“Kalau yang namanya dirujuk kan pasti lebih perlu penanganan dibanding yang dipulangkan. Tapi kondisinya sadar semua, nggak ada yang ibaratnya koma ataupun nggak ada,” jelasnya.
Ia memastikan bahwa tidak ada pasien yang mengalami kondisi kritis atau mengancam nyawa.
Ia juga menekankan bahwa fokus utama pihak puskesmas sejak awal adalah memberikan pertolongan cepat kepada para siswa yang datang dengan keluhan serupa.
“Kami belum sampai mengarah ke situ, Mas. Kami pertolongan pertamanya di sini,” ujarnya.
Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), beberapa perawat terlihat memeriksa tekanan darah, memberikan cairan rehidrasi, serta memastikan siswa cukup istirahat.
Sampel makanan yang diduga menjadi sumber masalah langsung diamankan untuk pemeriksaan laboratorium.
“Sudah diambil sampelnya, iya sampel makanannya. Tadi sudah dibawa sama Polsek,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa penanganan kasus semacam ini melibatkan banyak pihak, mulai dari tenaga medis puskesmas, kepolisian, hingga tim laboratorium kesehatan daerah.
Proses koordinasi antarinstansi dilakukan secara intensif untuk memastikan semua langkah penanganan berjalan sesuai prosedur.
“Karena kan itu lintas sektor ya, hubungannya kan. Kalau kami di puskesmas ya menangani pasiennya,” tambahnya.
Sementara itu, pihak kepolisian masih mengumpulkan keterangan dari pihak sekolah, penyedia makanan, serta siswa yang menjadi korban.
Hingga menjelang sore, kondisi puskesmas mulai sedikit lengang.
Beberapa siswa yang gejalanya membaik sudah diizinkan pulang setelah mendapat obat dan arahan untuk beristirahat di rumah.
Namun, tenaga medis tetap siaga di lokasi hingga malam untuk mengantisipasi kemungkinan adanya tambahan pasien baru atau gejala lanjutan pada siswa yang sebelumnya pulang.
Meski penyebab pasti belum diumumkan, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kehati-hatian dalam pengelolaan dan penyajian makanan, terutama untuk konsumsi massal di sekolah.