Risoles Mayo Diduga Jadi Penyebab Keracunan Mahasiswa UNISA Saat ECE di RSJ Grhasia
Direktur RSJ Grhasia, dr. Akhmad Akhadi S (tengah), saat konferensi pers, Senin (5/1/2026), mengungkapkan hasil analisis awal menyebut risoles mayo patut diduga menjadi snack paling rentan memicu keracunan dibandingkan tahu sarang burung dan banana cake.--Foto: Anam AK/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id – Dugaan keracunan makanan yang dialami mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat kegiatan Early Clinical Exposure (ECE) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia terus ditelusuri.
Dari hasil analisis awal, risoles mayo patut diduga menjadi makanan yang paling rentan memicu keracunan dibandingkan dua jenis snack lainnya.
Direktur RSJ Grhasia, dr. Akhmad Akhadi S, menjelaskan bahwa paket snack yang dikonsumsi mahasiswa terdiri dari risoles mayo, tahu sarang burung, dan banana cake. Namun secara kronologis dan dari aspek pengelolaan pangan, risoles mayo dinilai paling berisiko.
“Belum bisa dipastikan, tetapi dari ketiga snack tersebut, yang paling rentan dari aspek perlakuan dan pengelolaan adalah risoles mayo. Ini patut diduga berdasarkan analisis awal,” ungkap Akhmad dalam konferensi pers di RSJ Grhasia, Senin (5/1/2026).
BACA JUGA : RS Jiwa Grhasia Klarifikasi Dugaan Keracunan Mahasiswa UNISA, Penyebab Masih Diselidiki
BACA JUGA : Sri Sultan Soroti Kasus Keracunan MBG di Gunungkidul, Masakan Tak Didinginkan Bisa Picu Bahaya
Dia mengungkapkan, berdasarkan penelusuran, risoles mayo tersebut diproduksi pada Minggu (28/12/2025), kemudian disimpan di dalam freezer karena baru dikirim keesokan harinya. Pada Senin dini hari, snack tersebut digoreng dan sekitar pukul 08.00 WIB sudah tiba di RSJ Grhasia.
“Kronologi produksi, penyimpanan di freezer, hingga pengolahan ulang ini menjadi salah satu faktor yang kami highlight dalam penelusuran,” ujarnya.
Terkait vendor penyedia konsumsi, Akhmad menyebut perusahaan boga tersebut merupakan perusahaan boga besar yang telah terdaftar dalam sistem marketplace pengadaan elektronik. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan transaksi pengadaan di atas Rp2 juta melalui sistem elektronik.
Sementara itu, kegiatan ECE tahun ini dilaksanakan dalam tujuh gelombang, dengan insiden dugaan keracunan terjadi pada gelombang ketujuh atau terakhir, yang berlangsung pada 28–29 Desember 2025. Seluruh gelombang ECE sebelumnya juga menggunakan jasa perusahaan boga, yang sebagian merupakan pelaku UMKM.
BACA JUGA : Ratusan Siswa SD hingga MAN di Sleman Alami Gejala Keracunan Usai Diduga Konsumsi MBG
BACA JUGA : Emak-Emak Gelar Kenduri di UGM, Kritik Sistem Pangan dan Kasus Keracunan MBG yang Masih Marak
Dari sisi medis, Akhmad menjelaskan bahwa secara teori klinis, gangguan gastrointestinal akibat keracunan pangan memiliki lama perawatan atau length of stay sekitar 5–7 hari, tergantung tingkat keparahan.
“Pemulihan sangat bergantung pada jenis kuman, jumlah mikroorganisme yang masuk ke tubuh, serta faktor individu masing-masing pasien,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: