Kasus Leptospirosis di DIY Capai 576, Sebanyak 23 Orang Meninggal Dunia

Kasus Leptospirosis di DIY Capai 576, Sebanyak 23 Orang Meninggal Dunia

Dinkes Kota Yogyakarta mencatat kenaikan kasus leptospirosis pada 2025 menjadi 34 kasus, peningkatan ini dipicu deteksi dan skrining puskesmas yang lebih aktif, sementara masyarakat diminta waspada gejala flu tikus dan segera memeriksakan diri.--dok. Pemkot Jogja

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat 576 kasus leptospirosis sepanjang 2026 hingga data terakhir yang dilaporkan masing-masing kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 orang meninggal dunia dengan angka case fatality rate (CFR) mencapai 3,9 persen.

Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 250 kasus dan sembilan kematian. Data tersebut tercatat hingga Juli 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi DIY, dr. Ari Kurniawati, menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang menular dari hewan ke manusia atau zoonosis.

“Penyakit Leptospirosis merupakan infeksi bakteri yang ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis). Penyebab utamanya adalah bakteri Leptospira yang banyak hidup di ginjal hewan tertentu, terutama tikus,” kata Ari saat dihubungi, Jumat (6/11/2026).

BACA JUGA : Puskesmas Yogyakarta Perketat Skrining Demam Berisiko, Kasus Leptospirosis Terdata Lebih Banyak

BACA JUGA :  Waspada Penyakit Musim Hujan, Kasus Influenza dan Leptospirosis Naik di Yogyakarta

Bakteri tersebut menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi dan dapat mencemari lingkungan, seperti genangan air, lumpur, serta tanah.

Selain Bantul, kasus leptospirosis juga ditemukan di empat kabupaten/kota lainnya. Berikut rincian data yang dilaporkan kepada Dinkes DIY Di mana Bantul terdapat 250 kasus dengan 9 kematian (data hingga Juli 2026), Sleman ada 196 kasus dengan 2 kematian( data hingga Oktober 2026),  Kulon Progo 61 kasus dengan 7 kematian (data hingga Oktober 2026), Kota Yogyakarta 34 kasus dengan 2 kematian (data hingga Agustus 2026), serta Gunungkidul 35 kasus dengan 3 kematian (data hingga Juli 2026).

Ari menjelaskan, tingginya kasus di Bantul berkaitan dengan kondisi geografis dan karakteristik pekerjaan masyarakat. Menurutnya, wilayah Bantul yang berada di bagian hilir DIY memiliki lingkungan yang berpotensi meningkatkan risiko paparan bakteri.

Selain itu, banyak warga bekerja sebagai petani maupun buruh yang beraktivitas di sekitar aliran sungai, saluran pengairan, dan persawahan.

BACA JUGA : Leptospirosis Meningkat di Sleman, Tercatat 82 Kasus 9 Dinyatakan Meninggal

BACA JUGA : 7 Orang Meninggal Akibat Leptospirosis, Hasto Siagakan Kedaruratan dalam Pelayanan Kota Yogyakarta

“Bantul merupakan daerah paling bawah di antara kabupaten/kota di DIY sehingga risiko penularan menjadi lebih besar. Selain itu, demografi masyarakat di wilayah Bantul yang banyak bekerja sebagai petani/buruh semakin meningkatkan risiko tertular,” ujarnya.

Faktor lainnya adalah keterlambatan masyarakat memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan diagnosis dan pemberian antibiotik tertunda.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: