Lolos Pertukaran Pelajar AS, Tak Punya Ijazah SMA (Seri 1)

Lolos Pertukaran Pelajar AS, Tak Punya Ijazah SMA (Seri 1)

JEJAK KISAH: Azrul Ananda saat menjalani program pertukaran pelajar di Amerika Serikat pada 1993. Pengalaman setahun di Ellinwood High School, Kansas, menjadi titik balik perjalanan hidupnya meski tanpa mengantongi ijazah SMA.--

SURABAYA, diswayjogja.id – Azrul Ananda membuka kartu masa lalunya dengan gamblang. Pendiri DBL Indonesia tersebut mengaku sama sekali tidak pernah lulus SMA, apalagi mengantongi ijazah jenjang tersebut. Bahkan, sepanjang hidupnya, ia hanya pernah setahun mencicipi bangku sekolah menengah atas.

 

Semua bermula saat Azrul masih duduk di kelas 3 SMP di Surabaya pada 1993. Kala itu, sang ayah—Dahlan Iskan—yang bergelut di dunia jurnalistik berisiko tinggi, berupaya keras mengirimkan anaknya ke luar negeri secepat mungkin. "Abah ini bisa ditangkap kapan saja," kenang Azrul menirukan ucapan ayahnya.

 

Meski kondisi finansial keluarga saat itu belum berlebih, peluang emas muncul lewat iklan koran tentang program pertukaran pelajar SMA ke Amerika Serikat (AS). Berbekal nekat, Azrul yang saat itu berusia 15 tahun dan kerap tidak peduli dengan pelajaran sekolah—bahkan pernah mendapat stempel "Madesu" (Masa Depan Suram) dari gurunya—ikut mendaftar.

 

Tanpa persiapan khusus, Azrul lolos seleksi ujian bahasa Inggris dan wawancara. Pada Juli 1993, tepat beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-16, ia berangkat ke Negeri Paman Sam bersama 80 anak Indonesia lainnya. Azrul tercatat sebagai salah satu peserta termuda karena langsung berangkat selepas lulus SMP.

 

Setibanya di AS, rombongan mengikuti digembleng selama tiga pekan di kota kecil dekat Seattle, Washington. Di sana, para peserta dibekali etika bersosialisasi ala AS, budaya small talk, hingga kemandirian. "Pelajaran utamanya: jangan pernah malu. Orang Amerika lebih terus terang dan to the point," tegasnya.

 

Selepas masa orientasi, para siswa disebar ke seluruh penjuru AS. Azrul terlempar ke Ellinwood, sebuah kota kecil berpenduduk 2.800 jiwa di negara bagian Kansas—wilayah fiktif tempat bayi Superman mendarat. Ia ditampung oleh keluarga John dan Chris Mohn, pasangan pengelola koran lokal Ellinwood Leader sekaligus guru di Ellinwood High School.

 

Di era tanpa internet dan telepon seluler itu, Azrul hidup mandiri. Sepanjang tahun, sang ayah hanya membekalinya uang USD 250. Untuk memenuhi kebutuhan harian, Azrul bekerja membantu John di kantor koran dan menjadi pelatih sepak bola anak-anak SD dengan upah USD 15 per jam. Tak disangka, anak yang dijauhkan dari dunia media di Indonesia justru tumbuh di lingkungan keluarga pekerja media di AS.

 

Di Ellinwood High School inilah, keputusan besar diambil atas arahan orang tua angkatnya. Keputusan yang kelak membuatnya sama sekali tidak memiliki ijazah SMA, namun justru menjadi berkah terselubung dalam perjalanan kariernya. (azrul ananda/bersambung)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: