Tari Rodat, Harmoni Budaya Islam yang Terus Hidup di Bumi Mataram
Tari Rodat. --FOTO : Ist/ diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Di tengah gempuran budaya modern, Tari Rodat tetap bertahan sebagai salah satu kesenian tradisional khas Yogyakarta yang sarat nilai religius. Perpaduan antara gerak tari, tabuhan rebana, lantunan shalawat, dan pesan-pesan dakwah menjadikan Rodat tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat.
Kesenian yang telah berkembang sejak masa awal Kesultanan Yogyakarta ini menjadi bukti akulturasi budaya Islam dengan tradisi lokal yang berlangsung secara damai dan harmonis. Dalam setiap pementasannya, para penari bergerak serempak mengikuti irama rebana sambil melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan nasihat kehidupan.
Keunikan Rodat terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan-pesan keagamaan melalui seni. Para penari biasanya tampil berbanjar dengan gerakan tubuh yang ritmis, diiringi tabuhan rebana yang menciptakan suasana khidmat sekaligus menghibur.
Bagi para penggemarnya, Tari Rodat memiliki daya tarik yang sulit ditemukan pada kesenian lain. Salah satunya dirasakan Nawi Abdullah (47), warga Sleman yang telah lama menikmati berbagai pertunjukan Rodat di Yogyakarta.
BACA JUGA : Kesenian Sleman Terancam Punah, Festival Jadi Upaya Menyelamatkan Tradisi
BACA JUGA : Pamor Wicaksono Ajak Dewan Kesenian Brebes dan Seluruh Elemen Masyarakat Gaungkan Semangat Juang Pahlawan
"Ada ketenangan yang saya rasakan setiap kali mendengar tabuhan rebana dan lantunan syair Rodat. Isinya bukan hanya pujian kepada Nabi, tetapi juga pesan-pesan kehidupan yang relevan hingga sekarang," tutur Nawi.
Menurutnya, daya tarik Rodat tidak hanya terletak pada syair yang dilantunkan, tetapi juga pada kekompakan gerakan para penarinya.
"Gerakan maju-mundur para penari sekilas mengingatkan saya pada poco-poco, tetapi dibalut dengan shalawat dan nilai-nilai dakwah. Perpaduan itu membuat Rodat memiliki karakter yang unik dan berbeda dari kesenian lainnya," ujarnya.
Di sejumlah wilayah Yogyakarta, seperti Sleman, Bantul, hingga Kulon Progo, kesenian Rodat masih terus dilestarikan oleh kelompok-kelompok seni masyarakat. Tak sedikit generasi muda yang mulai dilibatkan dalam latihan dan pementasan sebagai upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.
BACA JUGA : DIY Pusatnya Budaya, Wayang Cakruk Jadi Media Efektif Pembelajaran di SMPN 1 Minggir
BACA JUGA : Tampilkan Beragam Aktivitas Komunitas Seni, Perayaan Ulang Tahun Pertama Taman Budaya Embung Giwangan
Lebih dari sekadar seni pertunjukan, Rodat menjadi cermin bagaimana masyarakat Yogyakarta memadukan budaya dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Di setiap tabuhan rebana, syair shalawat, dan gerakan yang kompak, tersimpan pesan tentang kebersamaan, keimanan, serta kearifan budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
Di saat banyak kesenian tradisional mulai kehilangan ruang, Tari Rodat justru menunjukkan bahwa warisan budaya yang mengandung nilai spiritual dan sosial tetap memiliki tempat di hati masyarakat Yogyakarta. Sebuah harmoni antara seni, dakwah, dan tradisi yang terus menari melintasi generasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: