Puskesmas Yogyakarta Perketat Skrining Demam Berisiko, Kasus Leptospirosis Terdata Lebih Banyak
Dinkes Kota Yogyakarta mencatat kenaikan kasus leptospirosis pada 2025 menjadi 34 kasus, peningkatan ini dipicu deteksi dan skrining puskesmas yang lebih aktif, sementara masyarakat diminta waspada gejala flu tikus dan segera memeriksakan diri.--dok. Pemkot Jogja
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat peningkatan kasus leptospirosis sepanjang 2025. Meski demikian, kenaikan jumlah kasus disebut bukan semata akibat lonjakan penularan, melainkan karena sistem deteksi dan skrining di fasilitas kesehatan yang kini lebih aktif.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, menyebutkan pada 2024 terdapat 10 kasus leptospirosis, sementara pada 2025 meningkat menjadi 34 kasus.
“Peningkatan ini dipengaruhi kewaspadaan puskesmas yang lebih tinggi. Sekarang setiap pasien demam dengan faktor risiko langsung dipertimbangkan kemungkinan leptospirosis,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/2/2026).
Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, menjelaskan leptospirosis merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri Leptospira dan bersifat zoonosis, yaitu ditularkan dari hewan ke manusia.
BACA JUGA : Dinkes Yogyakarta Kewalahan Layani BPJS Nonaktif, Layanan Dialihkan ke MPP dan CSS
BACA JUGA : Dinkes Jogja Pantau ISPA hingga ILI, Pastikan Belum Ada Indikasi Virus Nipah
“Penularan paling sering terjadi melalui tikus sehingga dikenal sebagai flu tikus, namun juga bisa berasal dari hewan lain seperti babi, kuda, dan kambing,” jelasnya.
Bakteri tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka pada kulit maupun selaput lendir seperti hidung, mulut, dan mata. Penularan umumnya terjadi saat seseorang bersentuhan dengan air, tanah, atau lingkungan yang tercemar urine hewan terinfeksi.
Menurut Anandi, risiko tertinggi dialami kelompok yang memiliki paparan lingkungan tertentu, seperti pekerja sawah, perkebunan, peternakan, rumah potong hewan, petugas kebersihan, serta masyarakat yang sering beraktivitas di area genangan air, banjir, atau lingkungan dengan sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi.
“Gejala awal leptospirosis kerap dianggap sepele, seperti demam, nyeri otot, dan lemas. Kondisi tersebut sering disalahartikan sebagai kelelahan atau masuk angin sehingga pasien datang terlambat berobat,” tuturnya.
BACA JUGA : Kasus DBD di Kota Yogyakarta Turun, Dinkes Tetap Waspada Wilayah Endemis Dengue
BACA JUGA : Super Flu Tak Sebahaya COVID-19, Dinkes Yogyakarta Tekankan PHBS dan Istirahat Cukup
Padahal, jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal.
Dinkes Kota Yogyakarta kini memperkuat deteksi dini melalui skrining ketat pada pasien demam berisiko. Pemeriksaan meliputi metode PCR untuk fase awal infeksi, Rapid Diagnostic Test (RDT) setelah tujuh hari demam, serta MAT sebagai konfirmasi laboratorium. Sampel pasien dapat dikirim ke laboratorium rujukan, termasuk Balai Besar Laboratorium Kesehatan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: