Magnet Tradisi dari Beji Sleman, Rahasia 17 Lipatan dan Filosofi Blangkon

Magnet Tradisi dari Beji Sleman, Rahasia 17 Lipatan dan Filosofi Blangkon

Muhammad Khoirudin, perajin blangkon tertua di Dusun Beji, Kabupaten Sleman, memperlihatkan proses pembuatan sap-sapan dan dalaman blangkon di ruang kerjanya--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

Namun, bagian tersulit justru datang ketika ia mengerjakan sap-sapan, detail lipatan berlapis yang menjadi ciri khas blangkon Beji. 

“Paling sulit itu pas membuat sap-sap atau sapsapan,” sebutnya. 

Pada titik itu, tangannya bergerak lebih pelan, memastikan tidak ada satu pun lipatan yang meleset. 

Sedikit kesalahan saja, bentuk blangkon bisa berubah dan kehilangan karakter.

BACA JUGA : Depok Perkuat Digitalisasi Pajak, 34 Objek Usaha Jadi Penopang PAD Sleman

BACA JUGA : Video Viral Diduga Tawuran Remaja di Sleman Ternyata Bukan Bentrok, Polisi Amankan Tiga Pelajar

Bagian sap-sapan bukan hanya urusan teknis. Di dalamnya ada filosofi keteraturan. 

Ia menyebut, setiap susunan lipatan memiliki hitungan tertentu. 

“Ada hitungan tertentu. Standar itu 17,” tambahnya. 

Ia menuturkan bahwa sebagian elemen blangkon menyiratkan nilai keislaman. 

“Melambangkan kita Islam,” lanjutnya perlahan, sembari menunjukkan bagian lipatan yang disusun berlapis.

BACA JUGA : Dua Kasus Korupsi Guncang Sleman, Bupati Janji Perbaiki Tata Kelola

BACA JUGA : PBB-P2 Sleman Dipastikan Transparan, Pajak Difokuskan untuk Pembangunan Publik

Ia menjelaskan, angka 17 pada blangkon merujuk pada jumlah rakaat dalam salat wajib sehari semalam. 

“17 menjalankan 17 sholat rokaat,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: