Magnet Tradisi dari Beji Sleman, Rahasia 17 Lipatan dan Filosofi Blangkon
Muhammad Khoirudin, perajin blangkon tertua di Dusun Beji, Kabupaten Sleman, memperlihatkan proses pembuatan sap-sapan dan dalaman blangkon di ruang kerjanya--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
“Nah, kayak ini dalemannya,” tuturnya sambil menampilkan hasil karyanya.
Baginya, merawat tradisi tidak sekadar membuat blangkon, tetapi juga menjaga identitas dan keterampilan yang diwariskan turun-temurun.
Ia berharap generasi muda tetap tertarik mempelajari seni ini.
“Iya, diikat kayak gini, terus diikat lagi,” imbuhnya sambil menunjukkan proses pengikatan bentuk dasar blangkon.
Ikatan itu bukan sekadar teknik. Ia adalah simbol keharmonisan, keseimbangan, dan ketelitian, nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
BACA JUGA : Sleman Rayakan Tahun Baru dengan Doa Khusus untuk Warga Sumatera
BACA JUGA : Pemkab Sleman Permudah Bayar PBB, Hapus Denda Setengah Tahun
Bagi warga Beji, keberadaannya bukan hanya pengrajin, melainkan penjaga memori kolektif.
Di tengah arus produksi massal, blangkon buatannya tetap dikerjakan manual.
Setiap helai benang memiliki cerita, setiap lekuk lipatan menyimpan perjalanan panjang budaya Jawa.
Ia bercerita, proses pembuatan blangkon tidak sekadar menjahit kain menjadi bentuk siap pakai.
Ada tahapan panjang mulai dari pengukuran kepala, pembentukan pola, hingga penguatan struktur dalamnya.
BACA JUGA : Sleman Capai Target PBB-P2 100% Lewat Inovasi QRIS dan Sleman Digital Service
BACA JUGA : Sleman Percepat SPPT PBB-P2 2025, 17 Kalurahan dan 10 Wajib Pajak Jadi Sorotan
Semua dilakukan perlahan, seperti meditasi. Kesabaran menjadi kunci, ketelitian menjadi nafas pekerjaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: