Cuaca Panas Ekstrem Masih Berlanjut, Pakar UGM Sebut Efek Urban dan AC Perparah Suhu Kota

Cuaca Panas Ekstrem Masih Berlanjut, Pakar UGM Sebut Efek Urban dan AC Perparah Suhu Kota

Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Doktor Sutomo, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Jumat (24/10/2025) siang sekitar pukul 13.55 WIB di mana latar belakang terlihat mendung di kawasan utara Kota Yogyakarta atau bertepatan dengan kawasan Gunung Merapi.--Foto: Anam AK/diswayjogja.id

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Cuaca panas ekstrem dengan suhu mencapai 37,6°C diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025. 

Fenomena ini melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jawa, Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut posisi gerak semu matahari yang berada di selatan ekuator menjadi penyebab utama meningkatnya suhu udara. 

Namun, pakar lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai ada faktor lain yang memperparah kondisi panas ini, terutama di wilayah perkotaan.

BACA JUGA : Awal Musim Hujan 2025 di DIY Diprediksi Oktober, BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem Pancaroba

BACA JUGA : BPBD Kota Yogyakarta Pastikan Kesiapan Hadapi Cuaca Ekstrem, Fokus Evakuasi dan Edukasi Warga Pinggir Sungai

Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup (PLSH) UGM, Prof. Djati Mardiatno, menjelaskan bahwa selain karena pengaruh gerak semu matahari dan angin timuran, fenomena “urban heat island” turut memperburuk suhu udara di daerah padat bangunan.

“Daerah-daerah yang padat bangunan akan memiliki cuaca yang lebih panas, seperti di wilayah perkotaan. Adanya perubahan lahan dan bangunan yang semakin banyak menyebabkan panas yang lebih ekstrem,” ujar Djati, Jumat (24/10/2025).

Menurutnya, cuaca panas saat ini merupakan fenomena periodik yang terjadi setiap tahun. Namun, intensitas panas kali ini terasa lebih tinggi dari biasanya.

Djati menambahkan, perilaku masyarakat yang semakin bergantung pada air conditioner (AC) juga menjadi salah satu faktor lokal yang memperparah suhu di perkotaan.

BACA JUGA : Sleman Siaga Musim Hujan, 3.700 Relawan Disiapkan Lewat Program Kalurahan Tangguh Bencana

BACA JUGA : Pemkot Yogyakarta Gelontorkan Rp5,5 Miliar untuk Revitalisasi Saluran Air Hujan Jalan Prof Dr Soepomo

“Banyak orang menggunakan AC untuk meredakan panas, tapi sebenarnya AC juga mengeluarkan udara panas ke luar ruangan. Jadi, penggunaan AC justru menambah panas di sekitar lingkungan,” terangnya.

Fenomena panas yang masih terasa meski sudah memasuki musim hujan, lanjut Djati, disebabkan oleh proses pemantulan radiasi matahari oleh permukaan bumi. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait