Cuaca Panas Ekstrem Masih Berlanjut, Pakar UGM Sebut Efek Urban dan AC Perparah Suhu Kota
Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Doktor Sutomo, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Jumat (24/10/2025) siang sekitar pukul 13.55 WIB di mana latar belakang terlihat mendung di kawasan utara Kota Yogyakarta atau bertepatan dengan kawasan Gunung Merapi.--Foto: Anam AK/diswayjogja.id
Ketika ada awan, panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terjebak dan kembali memantul ke permukaan, sehingga udara terasa lebih panas.
Untuk mengurangi dampak panas ekstrem, Djati menegaskan perlu ada upaya jangka panjang, di antaranya memperluas ruang terbuka hijau (RTH) dan meningkatkan tutupan pohon di kawasan perkotaan.
BACA JUGA : GKR Bendara Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air Tanah, Dorong Pemanfaatan Air Hujan
BACA JUGA : Cuaca Ekstrem, BPBD Kota Yogyakarta Imbau Warga Siapkan Mitigasi Mandiri
“Adanya tutupan pohon dapat membantu mengurangi rasa panas dan memberikan kesejukan alami. Tapi hal ini tidak bisa dilakukan instan, perlu waktu lama dan konsistensi,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi jangka pendek, Djati menyarankan masyarakat menjaga daya tahan tubuh, memperbanyak konsumsi air putih, dan menghindari aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00–14.00 WIB, saat intensitas panas matahari paling tinggi.
“Jika terpaksa keluar, lindungi tubuh dari paparan langsung sinar matahari agar tidak berdampak pada kesehatan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: