Desa di Tengah Kota, Sleman Buktikan Bisa Mandiri Lewat Danais dan Program Lumbung Mataraman
Warga Kalurahan Sleman menampilkan tumpang hasil pertanian lokal dari program Lumbung Mataraman yang didukung Danais, simbol kemakmuran dan kemandirian desa.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id – Meskipun sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman seperti Kecamatan Depok kini telah berkembang pesat menjadi kawasan perkotaan dengan deretan mal, kampus, dan pusat jasa, status administratifnya tetap sebagai desa atau kalurahan.
Di balik geliat urbanisasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman terus menegaskan komitmennya untuk menjaga jati diri desa sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman, Susmiarto, mengatakan bahwa Bantuan Keuangan Khusus (BKK) masih difokuskan untuk pembangunan infrastruktur dasar desa, sementara Dana Keistimewaan (Danais) dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat kini diarahkan untuk reformasi tata kelola dan penguatan kapasitas masyarakat desa.
"Danais tidak lagi hanya soal pembangunan fisik. Sekarang arahnya lebih pada pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi desa, dan tata kelola pemerintahan yang transparan,” katanya, Sabtu (4/10/2025).
Salah satu program unggulan yang kini berjalan adalah Lumbung Mataraman, yang menjadi tulang punggung program ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi desa di Sleman.
Melalui program ini, kelompok tani di tiap kalurahan didorong untuk mengembangkan budidaya komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti cabai, lombok, dan berbagai tanaman pangan lokal lainnya.
BACA JUGA : DPR Batalkan Pemotongan Danais 2026, Bupati Sleman: Syukur-Syukur Ditambah
BACA JUGA : Danais DIY Tak Jadi Dipangkas, DPRD Bantul Sebut Penyelamat Identitas Keistimewaan Yogyakarta
“Program Lumbung Mataraman menekankan pentingnya ketahanan pangan berbasis desa. Petani tidak hanya menanam untuk konsumsi, tapi juga untuk pasar lokal,” ucapnya.
Melalui skema Danais dan Lumbung Mataraman, pemerintah memberikan penguatan modal, pelatihan, serta pendampingan teknis bagi kelompok tani agar produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani dapat naik secara berkelanjutan.
“Kelompok tani mendapat dukungan modal dan pelatihan agar hasil panennya lebih optimal. Harapannya, mereka bisa mandiri tanpa tergantung bantuan luar,” tuturnya.
Program ini juga menjadi bentuk nyata dari sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan lembaga adat dalam menjaga ketahanan pangan, terutama di tengah dinamika perubahan sosial akibat urbanisasi.
Ia menegaskan bahwa wajah perkotaan di beberapa wilayah Sleman tidak mengubah semangat kemandirian desa yang sudah mengakar kuat sejak lama.
“Meskipun tampak perkotaan, karakter masyarakatnya tetap kuat dalam gotong royong dan tata kelola kalurahan. Itu yang membuat Sleman istimewa,” lanjutnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: