Wujud Syukur, Keraton Yogyakarta Gelar Grebeg Syawal 1446 Hijriah

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar upcara tradisi Grebeg Syawal pada Senin (31/3/2025), bertepatan dengan 1 Syawal 1446 Hijriah, sebagai bentuk wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.--Foto: Anam AK/diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar upacara tradisi Grebeg Syawal pada Senin (31/2/2025), berupa kirab gunungan hasil bumi sebagai simbol wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi ini digelar setiap tahunnya bertepatan dengan 1 Syawal 1446 Hijriah atau Hari Raya Idulftiri. Sebanyak tujuh gunungan dikirab mulai dari Keraton Yogyakarta menuju tiga lokasi, yakni Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman dan Kompleks Kepatihan.
Tradisi Grebeg Syawal dimulai dari ratusan pasukan dan abdi dalem Kraton Yogyakarta, yang keluar beriringan dari dalam Pagelaran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan membawa tujuh buah gunungan hasil bumi.
Lima gunungan yang berisi hasil bumi itu dibawa ke Masjid Gedhe Kauman. Usai tiba, gunungan didoakan oleh Kyai Penghulu dan para ulama Keraton Yogyakarta. Kemudian gunungan hasil bumi itu dibagikan kepada ratusan warga yang hadir.
BACA JUGA : Ramaikan Malam Lebaran, Ratusan Peserta Pawai Takbir di Kotagede Yogyakarta
BACA JUGA : 15 Kontingen Ikuti Gema Takbir Njeron Beteng di Alun-Alun Selatan Yogyakarta
Sekretaris Daerah (Sekda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Benny Suharsono, mengatakan Grebeg Syawal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses budaya yang adiluhung. Sehingga, warga menerima keberkahan yang diberikan langsung dari Keraton Yogyakarta.
"Jadi, bentuk syukur Tuhan Yang Maha Esa, kita sudah selesai melaksanakan ibadah puasa dan di akhir, hari ini kita menerima berkah," ujar Benny di Kompleks Kepatihan.
Selain itu, Grebeg Syawal juga sebagai simbol bersatunya warga dengan Keraton Yogyakarta, yang hidup saling berdampingan.
"Ini kan simbol menyatunya Raja dengan masyarakatnya. Karena tadi diawali dari menyatunya Raja dengan masyarakat," katanya.
BACA JUGA : Majelis Mujahidin Gelar Salat Idulfitri Lebih Awal 30 Maret 2025, Diikuti Seratusan Jamaah di Yogyakarta
BACA JUGA : Wali Kota Yogyakarta Ajak Warga Jaga Kebersihan Idulfitri, Tangkap Pembuang Sampah Liar
Kompleks Kepatihan menerima satu buah gunungan hasil bumi, yang dibagikan kepada masyarakat maupun wisatawan yang hadir.
"Kita melihat kalau berebut kan tidak nyaman. Kalau diserahkan kan menjadi budayanya muncul. Cuma antusiasnya luar biasa masyarakat. Kita tidak sedang menyalahkan masyarakatnya, makanya terus kita buat lebih simpel (dibagikan)," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: