Busana Peranakan, Simbol Pengabdian Abdi Dalem yang Sarat Filosofi
Busana Peranakan, Simbol Pengabdian Abdi Dalem yang Sarat Filosofi--FOTO : Dok. Museum Sonobudoyo
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Busana surjan selama ini dikenal masyarakat sebagai pakaian tradisional pria Jawa dengan beragam motif dan warna yang kerap dikenakan dalam berbagai acara adat maupun resmi. Namun, dalam berbagai upacara adat dan prosesi di lingkungan Keraton Yogyakarta, sering kali terdapat ketentuan penggunaan busana peranakan. Meski sekilas tampak serupa, busana peranakan bukanlah surjan biasa. Pakaian ini merupakan jenis surjan khusus yang menjadi seragam resmi para Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan menyimpan filosofi mendalam tentang pengabdian, kesederhanaan, serta nilai-nilai spiritual.
Secara fisik, busana peranakan memiliki ciri khas berupa kain lurik bermotif garis dengan dominasi warna biru tua dan hitam. Potongan bajunya menyerupai jas berkerah dengan model longgar hingga sebatas paha. Ciri yang paling mudah dikenali adalah enam kancing di bagian leher serta lima kancing di bagian dada.
Berdasarkan penjelasan Museum Sonobudoyo Yogyakarta, busana pranakan merupakan seragam resmi Abdi Dalem Keraton Yogyakarta yang lahir dari filosofi pengabdian. Enam kancing pada bagian leher melambangkan Rukun Iman, sedangkan lima kancing di bagian dada melambangkan Rukun Islam. Warna biru tua yang mendominasi busana tersebut juga dimaknai sebagai lambang ketenangan jiwa, kesetiaan, dan keteguhan hati dalam menjalankan pengabdian.
Museum Sonobudoyo Yogyakarta menyebut bahwa "busana pranakan bukan sekadar pakaian, melainkan simbol nilai-nilai pengabdian, kesederhanaan, dan identitas Abdi Dalem Keraton Yogyakarta."
BACA JUGA : Usia Hampir Dua Abad, Kereta Kencana Kyai Mandrajuwala Jalani Uji Kelayakan di Jantung Keraton Yogyakarta
BACA JUGA : Batik Larangan Keraton Yogyakarta, Bukan Sekadar Motif tetapi Simbol Kepemimpinan
Sementara itu, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjelaskan bahwa istilah pranakan berasal dari kata yang bermakna "rahim" atau "kandungan". Makna tersebut menggambarkan bahwa para Abdi Dalem dipersaudarakan dalam satu keluarga besar Keraton. Cara mengenakan busana yang dimasukkan melalui kepala (dislobokke) juga dimaknai sebagai simbol kelahiran kembali ke dalam ikatan pengabdian kepada Keraton.
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga menyatakan bahwa "penggunaan baju pranakan menyiratkan makna bahwa Abdi Dalem telah dipersaudarakan dalam keluarga besar Keraton Yogyakarta."
Hingga kini, busana peranakan masih digunakan oleh para Abdi Dalem dalam menjalankan aktivitas di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keberadaannya menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga sebagai bagian dari identitas Keraton sekaligus pengingat bahwa pengabdian tidak hanya diwujudkan melalui pekerjaan, tetapi juga melalui sikap hidup yang sederhana, setia, dan bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: