Serap 5.024 Tenaga Kerja, Sleman Jalankan 194 Paket Padat Karya 2026

Serap 5.024 Tenaga Kerja, Sleman Jalankan 194 Paket Padat Karya 2026

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman, Siti Istiqomah Tjatur Sulistijaningtyas, menjelaskan rencana pelaksanaan program padat karya 2026 yang menyasar ribuan tenaga kerja dari kelompok rentan.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

BACA JUGA : DLH Sleman Terapkan Pemilahan Limbah di SPPG MBG

BACA JUGA : BPJS PBI APBN Nonaktif di Sleman Capai 34.143 Jiwa, Prioritas Reaktivasi untuk Pasien Kronis

“Memang secara historis, dalam tiga tahun terakhir, kalau tidak salah, kami menerima paket dari BKK Provinsi lebih dari 100 paket setiap tahunnya. Angkanya cukup signifikan karena nilainya bisa lebih dari Rp10 miliar yang kami peroleh untuk kegiatan ini,” tuturnya.

Menurutnya, besarnya nilai anggaran berbanding lurus dengan dampak yang dihasilkan di masyarakat. 

Program padat karya tidak hanya memberikan pendapatan langsung bagi warga, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan infrastruktur lingkungan dan penguatan ekonomi lokal.

“Semakin besar nilainya, semakin besar pula dampak kegiatan ini bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa paket karya sejak awal dirancang sebagai bantuan sosial, namun dengan pendekatan yang berbeda dari bansos pada umumnya.

“Sebanyak 5.024 tenaga kerja ini berasal dari masyarakat Sleman, khususnya masyarakat penganggur, setengah penganggur, dan masyarakat miskin. Hal ini karena paket karya ini pada prinsipnya merupakan bantuan sosial yang bersifat produktif,” jelasnya. 

BACA JUGA : Sleman Siapkan TPST dan Fasilitas Energi dari Sampah Hadapi Penutupan TPA Piyungan

BACA JUGA : Kerangka Manusia Ditemukan di Rumah Kosong Sleman

Ia menjelaskan, istilah paket karya mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat. 

Namun, pemaknaannya kerap disederhanakan sebagai gotong royong yang diberi upah, padahal konsep dasarnya jauh lebih luas.

“Paket karya ini merupakan pembangunan infrastruktur sederhana yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh masyarakat. Sebagian masyarakat mungkin masih berpikir bahwa paket karya adalah gotong royong yang dibayar, namun tidak sepenuhnya demikian,” imbuhnya.

Menurutnya, esensi paket karya terletak pada prinsip bansos yang menghasilkan karya. 

Artinya, bantuan tidak berhenti pada pemberian dana, melainkan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan wilayahnya sendiri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: