Belajar dari Dapur Umum Merapi, Sri Sultan Minta Penanganan MBG di Sekolah Lebih Serius
Menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disiapkan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Caturtunggal, Kabupaten Sleman, DIY, saat hari kelima, Jumat (17/1/2025). --Foto: Anam AK/diswayjogja.id
Dia juga meminta agar penyusunan menu gizi tidak hanya berdasarkan teori di atas kertas, tetapi mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang bersifat komunal.
Bantuan telur atau lauk sering dibagi ke anggota keluarga lain, sehingga nilai gizi untuk individu penerima tidak tercapai.
BACA JUGA : Dinkes Sleman Ingatkan Batas Konsumsi Makanan MBG, Risiko Rusak Picu Keracunan
BACA JUGA : Begini Tanggapan BGN, Soal Surat Pernyataan MTSN 2 Brebes Wali Murid Dilarang Menggugat Jika Keracunan MBG
“Kalau satu butir telur dibagi tiga, gimana bisa efektif bantu gizi? Ini tantangan dalam masyarakat kita yang guyub rukun, tapi berdampak ke efektivitas bantuan,” tuturnya.
Selain menyinggung program MBG, Sri Sultan juga mengangkat pentingnya menjaga keseimbangan antara pendapatan petani dan harga pangan yang terjangkau bagi masyarakat.
Pihaknya menilai stabilitas harga adalah kunci keberhasilan kebijakan pangan.
“Bukan soal mahal atau murah, tapi bagaimana harga tetap stabil, petani untung, dan masyarakat mampu beli,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: