Evakuasi Pekerja Freeport Terjebak Longsor: Pakar UGM Bongkar Risiko Geologi dan Solusi Teknologi Modern
Tim penyelamat berupaya mengevakuasi pekerja tambang Freeport yang terjebak longsor di Papua Tengah. Risiko geologi membuat proses evakuasi sangat sulit--Foto: HO (Humas UGM)
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Upaya evakuasi tujuh pekerja tambang yang terjebak di area tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia, Papua Tengah, sejak Senin (8/9/2025) masih menghadapi tantangan besar.
Hingga kini, tim penyelamat belum bisa menjangkau korban akibat longsor yang menutup akses terowongan.
Pakar geologi dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Wahyu Wilopo, menegaskan bahwa aspek keselamatan menjadi tantangan teknis paling besar dalam misi penyelamatan ini.
Menurutnya, kondisi sempit di bawah tanah membuat aksesibilitas tim penyelamat maupun peralatan sangat terbatas.
“Suplai oksigen, keterbatasan ruang operasi, serta potensi runtuhan batuan dan masuknya lumpur basah menjadi ancaman serius,” katanya, Senin (22/9/2025).
Ia menambahkan, evakuasi harus dilakukan secepat mungkin, tetapi tetap dengan penuh kehati-hatian.
BACA JUGA : Iklan Prabowo di Bioskop Tuai Pro-Kontra, Akademisi UGM: Publik Anggap Pola Orde Baru
BACA JUGA : Sidang Eksepsi Kasus BMW Tabrak Mahasiswa UGM, Penasihat Hukum Sebut Putusan Hakim Bijak
“Jika dilakukan tergesa-gesa, risiko korban baru di kalangan tim penyelamat bisa meningkat,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa faktor geologi sangat berpengaruh terhadap kerentanan terowongan tambang.
Adanya sesar pada batuan, kata dia, dapat menjadi jalur masuknya air dan lumpur ke dalam terowongan, terutama saat curah hujan tinggi.
“Sistem penambangan block caving memang efisien, tetapi sulit sepenuhnya mengontrol keruntuhan material. Tantangan bukan hanya volume lumpur yang ada, tetapi juga ancaman lumpur baru yang bisa masuk saat evakuasi berlangsung,” jelasnya.
Untuk mempercepat proses evakuasi, ia menilai perlu adanya pemanfaatan teknologi modern.
“Teknologi robot atau sistem kendali jarak jauh bisa menjadi solusi agar risiko bagi tim penyelamat bisa diminimalisasi,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: