Sementara itu, pemantauan deformasi menggunakan metode Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Positioning System (GPS) tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Dari sisi curah hujan, intensitas tertinggi tercatat pada 26 Oktober 2026 di Stasiun Pasarbubar. Curah hujan mencapai 46,43 milimeter per jam selama 16 menit.
BPPTKG menyebut tidak ada laporan penambahan aliran maupun kejadian lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi selama periode pengamatan tersebut.
BACA JUGA : Warga Korban Erupsi Merapi Kini Punya Sertifikat Huntap, Sri Sultan Titip Pesan Ini
BACA JUGA : Kebakaran Hutan Gunung Merapi Capai 30 Hektare, Tim Masih Lakukan Mopping Up
BPPTKG meminta pemerintah daerah di sekitar Merapi meningkatkan upaya mitigasi menghadapi ancaman erupsi. Wilayah yang menjadi perhatian meliputi Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten.
Upaya mitigasi yang direkomendasikan antara lain meningkatkan kapasitas masyarakat serta menyiapkan sarana dan prasarana evakuasi. Agus juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk daerah potensi bahaya.
“Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya,” imbuhnya.
Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di sekitar Gunung Merapi. Warga juga perlu mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari aktivitas erupsi.