Keempat, kebijakan pembangunan dan pariwisata harus memperhatikan dampak sosial dan ekologis yang ditimbulkan.
Serikat Mahasiswa UGM juga menegaskan posisi mahasiswa untuk berdiri bersama kelompok masyarakat yang terdampak perubahan kota.
“Sebagai mahasiswa sudah sepatutnya kami berdiri sejajar dengan mereka yang tergusur, tertindas, dan terabaikan dari lajunya perubahan kota,” tulis mereka.
BACA JUGA:Pemerintah Pusat Tidak Pangkas Dana Keistimewaan, Bupati Bantul Sambut Gembira
BACA JUGA : Ratusan Massa Nyalakan Lilin di Bundaran UGM, Aksi 'Agustus Gelap' Kenang Korban Ketidakadilan
Mereka menyebut setiap tahun banyak mahasiswa datang ke Yogyakarta untuk belajar, sementara pada saat yang sama mereka menyaksikan persoalan yang dihadapi pedagang kaki lima, masyarakat miskin kota, hingga petani yang kehilangan tanah.
Dalam pernyataan tersebut, Serikat Mahasiswa UGM menekankan bahwa Yogyakarta tidak boleh dipandang semata sebagai destinasi wisata, kawasan investasi, maupun pusat aktivitas ekonomi.
“Yogyakarta adalah ruang hidup. Dan ruang hidup tidak boleh dibicarakan tanpa menghadirkan mereka yang hidup di dalamnya.”