SEMA UGM, BEM UI, dan KM ITB Serukan Konsolidasi Gerakan Mahasiswa.

SEMA UGM, BEM UI, dan KM ITB Serukan Konsolidasi Gerakan Mahasiswa.

Seruan konsolidasi gerakan mahasiswa lintas kampus kembali disuarakan. SEMA UGM, BEM UI, dan KM ITB mengajak mahasiswa serta berbagai kelompok masyarakat--FOTO : Dok SEMA UGM

YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Seruan konsolidasi gerakan mahasiswa lintas kampus kembali disuarakan. SEMA UGM, BEM UI, dan KM ITB mengajak mahasiswa serta berbagai kelompok masyarakat untuk memperkuat gerakan bersama dalam merespons kondisi demokrasi dan tata kelola negara yang mereka nilai semakin mengkhawatirkan.

Seruan tersebut disampaikan dalam pernyataan bersama yang dirilis di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026). Pernyataan itu menjadi agenda konsolidasi sekaligus ajakan kepada mahasiswa di berbagai daerah untuk membangun gerakan yang disebut damai, disiplin, terorganisasi, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

Ketua Umum SEMA UGM, Mesa, mengatakan mahasiswa tidak hanya membawa nama institusi masing-masing, tetapi juga menyuarakan kegelisahan mahasiswa dan keresahan publik yang selama ini dinilai belum mendapatkan respons memadai dari penyelenggara negara.

“Hari ini, kami berdiri bersama bukan sekadar membawa nama Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada, lebih dari sekadar nama-nama institusi. Di sini kami berdiri membawa kegelisahan mahasiswa, kemarahan yang mendalam, dan suara publik yang berulang kali diabaikan oleh para penyelenggara negara,” kata Mesa.

BACA JUGA:ISI Yogyakarta Nonaktifkan Dosen Terlapor Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Mahasiswa

BACA JUGA:110 Ribu UMKM Sleman Punya Peluang Besar di Era AI, Mahasiswa Diajak Turun Tangan

Menurut dia, kondisi demokrasi dinilai terus mengalami kemunduran. Kritik yang semestinya menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi justru dianggap sebagai ancaman.

“Demokrasi terus mengalami kemunduran; kritik yang seharusnya menjadi vitamin demokrasi justru diperlakukan sebagai ancaman. Ketika rakyat bersuara, kekuasaan memilih menutup telinga. Ketika mahasiswa mengkritik, suara terus dicurigai,” ujarnya.

Mesa juga menyoroti beban kehidupan masyarakat yang dinilai semakin berat, mulai dari pajak, biaya kebutuhan hidup hingga ongkos transportasi. Di sisi lain, pemerintah dinilai masih mengalokasikan anggaran untuk sejumlah program yang menurut mahasiswa minim transparansi dan pertanggungjawaban.

“Realitas bangsa saat ini sudah terlalu kompleks untuk terus ditutupi oleh pidato, seremoni, pencitraan, ataupun propaganda kekuasaan. Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Rakyat tengah dirundung pilu, dan negeri ini berada dalam kenestapaan,” tegasnya.

BACA JUGA:Bedah Memoar William Soeryadjaya, Fadhil Dorong Mahasiswa Jadi Entrepreneur yang Tak Lupa Tuhan

BACA JUGA:Mahasiswa PPG UNY Ajak Guru SMKN 5 Yogyakarta Ubah Cara Mengajar Dengan Adopsi Teknologi AI

Sementara itu, Ketua BEM UI, Athof, menegaskan seruan tersebut bukan ditujukan untuk membangun kebencian ataupun kekacauan. Mahasiswa, kata dia, justru ingin mendorong perubahan dan memastikan negara tetap berjalan berdasarkan kepentingan rakyat.

“Kami tidak menyerukan kebencian, sebaliknya, kami menyerukan keberanian. Kami tidak menginginkan kekacauan, sebaliknya, kami menginginkan perubahan. Dan, kami tidak sedang memusuhi negara. Tetapi kami sedang menolak negara dirampas oleh kepentingan kekuasaan,” kata Athof.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: