AI dapat membantu memberikan jawaban dan mempercepat proses analisis. Namun, manusia tetap memiliki peran dalam menentukan pertanyaan, memahami makna sebuah temuan, mempertimbangkan aspek keadilan, serta bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat.
Gagasan tersebut kemudian dikaitkan dengan pengembangan Integrasi–Interkoneksi Keilmuan yang selama ini menjadi tradisi akademik UIN Sunan Kalijaga.
BACA JUGA:Saat Teknologi AI Bisa Pantau Isu Publik, Bukti Kecerdasan Buatan Indonesia Masuki Tahap Baru
BACA JUGA:110 Ribu UMKM Sleman Punya Peluang Besar di Era AI, Mahasiswa Diajak Turun Tangan
“Inilah relevansi Integrasi–Interkoneksi Keilmuan pada abad ke-21. Integrasi–Interkoneksi tidak boleh berhenti sebagai paradigma akademik. Ia harus menjadi paradigma transformatif,” tegasnya.
Prof. Noorhaidi mendorong agar integrasi keilmuan tidak hanya menjadi konsep di lingkungan akademik, tetapi tercermin dalam praktik para lulusan dan peneliti.
Dia memberikan gambaran tentang guru yang memahami perkembangan peserta didik ketika menggunakan AI, ekonom yang mempertimbangkan keadilan sosial, ahli agama yang mampu menjawab persoalan masyarakat, hingga pemimpin yang menyadari tanggung jawab etisnya.
Kemampuan memadukan wawasan keilmuan, keterampilan teknologi, kreativitas, dan kesadaran etis tersebut disebutnya sebagai intelligent professionalism.
UIN Sunan Kalijaga juga diarahkan untuk berkembang sebagai knowledge hub yang mempertemukan agama, sains, teknologi, masyarakat, industri, kebijakan publik, dan jejaring internasional.
BACA JUGA:Mahasiswa Asing dan Non-Muslim Ini Bagikan Pengalaman Pertama Kuliah di Kampus Muhammadiyah Jogja
“Dengan pendekatan tersebut, ukuran keberhasilan universitas tidak hanya dilihat dari peringkat akademik, tetapi juga dari manfaat pengetahuan yang dihasilkan dan persoalan masyarakat yang dapat dibantu penyelesaiannya,” jelasnya.
Pada usia ke-75, UIN Sunan Kalijaga kemudian membawa semangat “From Academic Excellence to Global Impact” untuk memasuki tahap berikutnya.
“Perjalanan panjang sejak PTAIN berdiri di Yogyakarta pada 1951 menjadi fondasi untuk mengembangkan ilmu yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga semakin relevan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia maupun dunia,” tutupnya.