Kesiapan tersebut dibangun melalui latihan rutin. Setiap pekan, para relawan berkumpul dua kali, yakni pada malam Selasa dan malam Sabtu.
BACA JUGA : Heboh Kasus Dugaan Pelecehan Anak di Ngemplak Sleman, Pelaku Masih Remaja dan Relawan SPPG
BACA JUGA : KRJ ke-22 Sediakan 3.800 Porsi Buka Puasa Gratis Setiap Hari, Libatkan 500 Relawan dan 400 Pedagang
Pertemuan tidak hanya diisi dengan ngobrol dan evaluasi, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dan mengasah kemampuan menghadapi berbagai kondisi korban.
Mulai dari teknik pencarian, penanganan kecelakaan, hingga penanganan korban yang mengalami patah tulang, semuanya menjadi bagian dari latihan.
"Seminggu dua kali, malam Selasa sama malam Sabtu. Kita ngobrol-ngobrol bareng, kadang juga belajar pengkondisian, korban bagaimana. Ada pelatihan kecelakaan, korban patah tulang juga kita harus bisa," jelas Jabling.
Menariknya, materi pelatihan tidak selalu didatangkan pemateri dari luar. Para relawan juga saling berbagi pengalaman berdasarkan kemampuan dan pengalaman yang mereka miliki.
BACA JUGA : Cuaca Ekstrem Mengintai, Sleman Siapkan Dana Darurat dan Relawan
BACA JUGA : BPBD Sleman Tetapkan Dua Status Siaga, Merapi dan Cuaca Ekstrem
"Kita sendiri. Saling bertukar pengalaman," ujarnya.
Untuk masyarakat, pelatihan khusus tidak dilakukan secara rutin seperti yang dijalani relawan. Namun, warga di wilayah atas ( KRB 1 ) tetap dapat dilibatkan dalam kegiatan tertentu, terutama ketika terjadi operasi maupun penanganan pascabencana.
Jaringan relawan tersebut juga terhubung dengan organisasi SAR DIY. Jabling menyebut dirinya bersama sejumlah relawan menjadi bagian dari jaringan SAR hingga tingkat kapanewon (Kecamatan )
Dari Lereng Merapi hingga Turi
Bagi Mas Jabling, pengalaman menjadi relawan SAR telah meninggalkan banyak cerita. Beberapa di antaranya bahkan sulit dilupakan.
BACA JUGA : Sleman Siaga Penuh Menyambut Tahun Baru, 3.700 Relawan Siap Antisipasi Bencana