Mas Jabling, Relawan SAR di Cangkringan Lereng Merapi Yang Harus Selalu Siap Saat Dibutuhkan
Kesiapsiagaan itu bukan sekadar teori. Dalam situasi tertentu, relawan harus berhadapan dengan kondisi yang tidak mudah, termasuk ketika menangani korban meninggal dunia.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id — Bagi Anang Yuli Wijanarko, atau biasa dipanggil Mas Jabling bukan sekadar nama yang dikenal di lingkungan relawan SAR. Di kawasan rawan bencana (KRB) lereng Merapi, nama itu melekat pada sosok yang harus selalu siap ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Tidak ada banyak persiapan yang rumit. Ketika panggilan datang, prinsipnya sederhana: siap bergerak dan mengutamakan keselamatan.
"Intinya teman-teman tolong siap-siap saja. Siap, biar kalau diperlukan kita harus dahulukan yang butuh pertolongan," ujar Jabling memulai pembicaraan dengan diswayjogja, Rabu (23/9/2026)
Kesiapsiagaan itu bukan sekadar teori. Dalam situasi tertentu, relawan SAR Cangkringan, harus berhadapan dengan kondisi yang tidak mudah, termasuk ketika menangani korban kecelakaan bencana maupun korban meninggal dunia.
BACA JUGA : Saat Air Bersih Sangat Dibutuhkan Gunungkidul, Para Relawan Kekeringan Bahu Membahu Turun Membantu
BACA JUGA : Satpol PP Brebes Sebar Relawan Damkar 17 Kecamatan, 5 Posko Disiagakan Antisipasi Kebakaran
Belum lama ini, misalnya, Jabling bersama beberapa rekannya harus mendatangi lokasi di Surodadi untuk menangani korban yang telah meninggal selama beberapa hari. Saat itu hanya empat orang yang sanggup masuk ke lokasi karena kondisi jenazah yang sudah tidak utuh
"Kita ke sana cuma mampu berempat. Yang lain juga tidak mampu, saking banyaknya kendala," kenangnya.
Bagi Jabling, pengalaman seperti itu menjadi bagian dari konsekuensi menjadi relawan SAR. Karena itu, kesiapan fisik, mental, kemampuan teknis hingga komunikasi harus terus dijaga.
Saat ini, untuk kegiatan harian, sekitar 8 hingga 10 relawan biasanya berada dalam kondisi stand by. Namun jumlah tersebut dapat bertambah ketika operasi pencarian dan pertolongan berskala lebih besar dilakukan.
BACA JUGA : Relawan MBG DIY Sampaikan 8 Aspirasi, Minta Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis Diperkuat

BACA JUGA : ‘Kami Sudah Sangat Terjepit’, Curhat Relawan Muda di Tengah Aksi Rakyat Memanggil di Gejayan
"Kalau nanti ada operasi SAR yang besar, kita gabung semua," katanya.
Komunikasi antarrelawan pun tidak selalu menggunakan perangkat khusus. Dalam kondisi sehari-hari, telepon seluler menjadi sarana utama untuk saling terhubung.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: