Sapto menegaskan, perubahan desil tidak selalu berarti perubahan tingkat kesejahteraan. Namun, banyaknya keluhan menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai desil masih terbatas dan mekanisme pembaruan data perlu terus disosialisasikan.
Polemik ini memperlihatkan bahwa desil DTSEN bukan sekadar angka 1 hingga 10. Data tersebut dapat memengaruhi cara pemerintah membaca kondisi ekonomi warga dan menentukan sasaran berbagai program.
Karena itu, masyarakat membutuhkan mekanisme pembaruan yang mudah, transparan, dan dapat dipercaya. Warga juga diharapkan tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi menggunakan jalur resmi untuk memperbaiki data.
“Yang terpenting masyarakat tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga bisa menggunakan jalur pembaruan yang sudah disediakan. Dengan begitu, data yang ada dapat terus diperbaiki dan diperbarui sesuai kondisi masyarakat,” pungkas Sapto.