Saat ini, perangkat tersebut tersedia di empat Puskesmas dan satu unit di Dinas Kesehatan Sleman.
“Di Kabupaten Sleman kita sudah ada di empat Puskesmas dan satu di Dinas Kesehatan, total lima,” jelas Seruni.
BACA JUGA : Kasus Bunuh Diri Remaja Jadi Sorotan, Pemda DIY Gencarkan Upaya Kesehatan Mental
BACA JUGA : Gelap Sunyi di Balik Senyum Ibu, Tekanan Ekonomi dan Peran Ganda Picu Bunuh Diri Perempuan
Menurutnya, pemeriksaan HRV dapat memberikan gambaran kondisi tubuh yang berkaitan dengan respons stres, kualitas istirahat, hingga kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Di Puskesmas, layanan tersebut disebut memiliki tarif sekitar Rp50.000. Sementara perangkat yang berada di Dinas Kesehatan dimanfaatkan terutama untuk kelompok rentan maupun kegiatan tertentu. Seruni mengatakan penguatan skrining tersebut diperlukan karena generasi muda semakin mudah terpapar berbagai informasi yang dapat memengaruhi kondisi mental dan emosional.
Dinkes Sleman juga meminta orang tua meningkatkan komunikasi dengan anak, khususnya mereka yang memasuki usia remaja. Seruni berharap anak-anak memiliki ruang aman untuk menyampaikan persoalan yang mereka alami kepada orang tua, bukan justru mencari jawaban dari media sosial atau sumber digital yang tidak terverifikasi.
“Orang tua harus berkomunikasi kepada anaknya, terutama usia remaja. Sehingga anak-anak pun mau curhat tidak ke media sosial tetapi ke orang tuanya terlebih dahulu,” tuturnya.
BACA JUGA : Profesor UGM Ramai-Ramai Melukis di RSA, Seni Disebut Bisa Tingkatkan Imunitas dan Kesehatan Mental
BACA JUGA : Pelajar di Sleman Alami Kecemasan dan Depresi, LAKI dan Rumpun Nurani Usung Program Kesehatan Mental
Orang tua juga diminta aktif mengenali lingkungan pergaulan anak agar perubahan kondisi maupun persoalan yang sedang dihadapi dapat diketahui lebih dini.
Seruni menegaskan, meski 15 kasus bunuh diri telah tercatat hingga pertengahan Agustus, kondisi tersebut tidak ditetapkan sebagai KLB. Namun, peningkatan angka kasus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa.
“Kami berharap rekan-rekan media betul-betul bisa memberikan literasi yang baik dan benar supaya warga masyarakat kita yang kemudian mengalami permasalahan psikologis, psikis, kebingungan tidak kemudian mencari solusi berdasarkan media sosial atau arahan AI, tetapi mencari akses yang sudah benar dan sudah kita sediakan secara terjangkau di seluruh Indonesia,” pungkas Seruni.