Saat Serdadu Matahari Terbit Memilih Berjuang Bersama Tentara Merah Putih

Jumat 31-07-2026,10:39 WIB
Reporter : Dhani Irawan
Editor : Syamsul Falaq

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Berakhirnya Perang Dunia II setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945 menjadi titik balik bagi ribuan tentara Jepang yang ditempatkan di berbagai wilayah Asia Pasifik. Sesuai ketentuan Sekutu, mereka diwajibkan menyerahkan senjata dan dipulangkan ke negaranya.

Namun, tidak semua prajurit memilih kembali ke Jepang. Sejumlah serdadu justru memutuskan tetap tinggal di Indonesia dan bergabung bersama para pejuang Republik dalam Perang Kemerdekaan Indonesia periode 1945–1949 untuk menghadapi agresi militer Belanda.

Sejarawan mencatat sekitar 1.000 hingga 2.000 bekas tentara Jepang memilih membantu perjuangan Indonesia dalam berbagai bentuk. Sebagian besar menjadi pelatih militer, instruktur penggunaan senjata, ahli strategi, hingga ikut bertempur bersama laskar rakyat dan Tentara Nasional Indonesia. Pengalaman mereka sebagai tentara yang terlatih menjadi bekal berharga bagi pasukan republik yang saat itu masih sangat terbatas dalam pendidikan militer.

Di Yogyakarta, jejak pengabdian para mantan serdadu Jepang itu masih dapat ditemukan di . Enam orang eks tentara Jepang yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan dimakamkan di kompleks makam pahlawan tersebut.

BACA JUGA : Semangat Kemerdekaan HUT ke-80 RI, Mahasiswa Asing Ikut Meriahkan Lomba Agustusan UMY

BACA JUGA : Tetenger Watulangkah, Saksi Perjuangan Gerilya di Gamping yang Menyimpan Jejak SWK 103

Petugas TMP Nasional Kusumanegara, Heru Sutanto, mengatakan keenam orang itu merupakan mantan prajurit Jepang yang memilih berpihak kepada Republik Indonesia setelah negaranya kalah perang.

"Mereka berjasa dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain ikut berjuang melawan Belanda, mereka juga melatih para pejuang menggunakan senjata dan teknik-teknik pertempuran. Mereka memilih tetap tinggal dan menjadi bagian dari Indonesia," kata Heru Sutanto kepada diswayjogja, Jumat (31/7)

Menurut Heru, enam makam tersebut terbagi di dua lokasi di dalam kompleks makam. Tiga makam berada di sisi timur, sedangkan tiga makam lainnya berada di sisi barat.

Peran para mantan tentara Jepang tidak lepas dari kondisi awal berdirinya republik. Banyak persenjataan yang digunakan pejuang Indonesia merupakan hasil pelucutan senjata tentara Jepang setelah proklamasi kemerdekaan, termasuk dalam peristiwa pelucutan senjata di Kotabaru, Yogyakarta. Karena telah menguasai penggunaan senjata tersebut, para mantan prajurit Jepang kemudian menjadi mentor bagi pasukan republik dalam mengoperasikan persenjataan, menyusun strategi, hingga menerapkan taktik perang gerilya.

BACA JUGA : Di Detik Akhir, Ustaz Jazir ASP Masih Bicara Amal dan Perjuangan

BACA JUGA : Jejak Bung Karno di Blitar, Kader PDI Perjuangan Jogja Dalami Nilai Pancasila

Meski berasal dari negara yang sebelumnya menduduki Indonesia, pilihan mereka untuk mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan Republik menjadikan nama-nama mereka dikenang sebagai bagian dari para pejuang bangsa. Makam mereka di TMP Nasional Kusumanegara menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga melibatkan orang-orang yang lahir jauh dari Tanah Air, tetapi memilih mengabdikan hidupnya untuk Indonesia.

Kategori :