Mengapa Orang Jawa Sering Berseru

Minggu 05-07-2026,11:41 WIB
Reporter : Dhani Irawan
Editor : Syamsul Falaq

YOGYAKARTA, diswayjogja.id – "Paijo... Paijo...!" Kalimat itu mungkin pernah terlontar dari mulut orang Jawa saat melihat seseorang melakukan hal yang konyol, ceroboh, atau membuat orang lain geleng-geleng kepala tak habis pikir, mungkin dalam bentuk gumaman maupun keras.

Yang menarik, orang yang dipanggil "Paijo" hampir pasti bukan bernama Paijo. Nama itu telah berubah menjadi simbol. Sebuah tokoh imajiner yang mewakili tingkah lugu, nyeleneh, tak habis pikir, kadang menjengkelkan, tetapi tetap mengundang tawa.

Padahal, jika menengok masyarakat Jawa pada era 1950-an hingga 1980-an, Paijo merupakan nama yang sangat umum. Bersama nama seperti Paino, Paijan, Parjo, Poniman, Wagiman, atau Kasan, nama Paijo banyak disematkan kepada anak laki-laki. Sementara anak perempuan lazim diberi nama Paijem atau Painem. Bahkan sejumlah referensi penamaan Jawa menyebut Paijo berasal dari tradisi nama Jawa yang menggambarkan anak yang masih lugu atau polos.

Lalu, mengapa nama yang semula biasa saja berubah menjadi sebutan untuk orang yang bertingkah "aneh"?

BACA JUGA : Mengenal Tarot Wayang, Seni Ramalan Berbalut Budaya Jawa di Jogja

BACA JUGA : Genjot Minat Baca Generasi Muda, Gol A Gong Perkuat Budaya Literasi Dengan Roadshow Duta Baca di Brebes

Hingga kini belum ditemukan literatur bahasa Jawa yang menyebut kata Paijo memiliki arti "bodoh", "aneh", atau "konyol". Dalam khazanah bahasa Jawa, Paijo hanyalah sebuah nama diri. Artinya, perubahan makna tersebut lahir dari kebiasaan masyarakat, bukan dari kamus.

Budayawan Jawa sekaligus Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta, Suwardi Endraswara, menjelaskan bahwa dalam budaya Jawa simbol-simbol bahasa terus berkembang mengikuti kehidupan masyarakat. Nama, tokoh, bahkan istilah tertentu dapat mengalami pergeseran makna karena digunakan berulang-ulang dalam ruang sosial dan budaya. Ia menegaskan bahwa budaya Jawa sangat kaya dengan simbol yang hidup melalui tradisi lisan dan kesenian.

Jejak itu tampaknya dapat ditelusuri dari dunia hiburan Jawa. Pada era kejayaan radio, masyarakat Jawa akrab dengan Dagelan Mataram yang dipopulerkan pelawak legendaris Basiyo. Dalam lawakan-lawakan tersebut, tokoh-tokoh dengan nama sederhana seperti Paijo, Parjo, Paino, Noyo, Dadap atau Bejo sering muncul sebagai sosok rakyat biasa yang polos, lugu, mudah tertipu, tetapi justru memancing gelak tawa. Pengulangan karakter seperti itu selama puluhan tahun membentuk asosiasi di benak masyarakat.

Lama-kelamaan, ketika ada orang bertindak di luar nalar, masyarakat tidak lagi berkata, "Dasar orang aneh!" Sebaliknya, cukup menyebut satu nama: "Paijo!"

BACA JUGA : Belasan Kelompok Seni dan Budaya Nusantara Semarakkan Kirab Budaya Tresna Pancasila 2026 di Malioboro

BACA JUGA : Dari Daerah yang Dianggap Wingit Menjadi Kota Budaya, Jejak Lahirnya Yogyakarta

Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang asing dalam ilmu bahasa. Sebuah nama dapat berubah menjadi lambang karakter karena digunakan terus-menerus dalam budaya populer. Pergeseran seperti ini disebut sebagai perubahan makna yang dipengaruhi faktor sosial dan budaya.

Namun, di balik guyonan tersebut, masyarakat Jawa tetap memiliki pengingat agar tidak sembarangan menggunakan kata-kata. Filosofi "Ajining diri saka lathi" mengajarkan bahwa martabat seseorang tercermin dari tutur katanya. Artinya, humor boleh saja berkembang, tetapi jangan sampai berubah menjadi ejekan yang merendahkan orang lain. Falsafah ini banyak dibahas dalam kajian budaya Jawa karya Suwardi Endraswara.

Jadi, jika suatu hari terdengar celetukan, "Paijo tenan kowe!", jangan buru-buru mencari siapa yang bernama Paijo. Bisa jadi tak ada seorang pun yang memakai nama itu. Sebab, dalam perjalanan budaya Jawa, Paijo telah "naik pangkat" dari sekadar nama orang menjadi ikon kelucuan yang diwariskan dari generasi ke generasi—bukan karena arti namanya, melainkan karena cerita, dagelan, dan kebiasaan masyarakat yang terus menghidupkannya.

Kategori :