Kampung Pitu, Desa yang Hanya Memiliki Tujuh Rumah di Puncak Karst Gunungkidul
Salah satu rumah di Kampung Pitu--FOTO : Ist/ diswayjogja.id
GUNUNGKIDUL, diswayjogja,id – Di balik ramainya wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, terdapat sebuah kampung kecil yang menyimpan keunikan sekaligus ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Namanya Kampung Pitu, sebuah permukiman di sisi timur kawasan Nglanggeran, Kalurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.
Saat Disway Jogja bersama sejumlah awak media mengunjungi kampung tersebut, suasana sunyi langsung terasa begitu memasuki kawasan perbukitan karst yang masih menjadi satu rangkaian bentang alam Gunung Api Purba Nglanggeran. Jalan menanjak dengan hamparan bebatuan vulkanik purba mengantar pengunjung menuju sebuah kampung yang hanya memiliki tujuh rumah sebagai tempat tinggal tujuh kepala keluarga.
Keheningan menjadi "suara" yang paling dominan. Hanya sesekali terdengar kicauan burung, embusan angin pegunungan, serta percakapan warga yang hidup berdampingan dalam suasana sederhana.
Keunikan Kampung Pitu bukan sekadar karena letaknya yang berada di atas bukit. Sesuai namanya, kampung ini sejak lama dipercaya hanya boleh dihuni tujuh kepala keluarga. Tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun menyebutkan, apabila ada keturunan yang telah berkeluarga sementara jumlah penghuni telah genap tujuh, maka akan ada anggota keluarga lain yang memilih menetap di wilayah bawah atau merantau sehingga jumlah penghuni tetap tujuh keluarga. Tradisi tersebut masih dijaga hingga sekarang, meski masyarakat tidak melarang orang luar datang berkunjung.
BACA JUGA : Kirab Garuda Raksasa Warnai Festival Wayang Beber Pancasila di Kampung Pancasila Bantul
BACA JUGA : Seru! Ragam Aktivitas Menarik dan Edukatif di Nglanggeran Gunungkidul, Berikut Informasi Selengkapnya
Di tengah berkembangnya kawasan wisata Nglanggeran, Kampung Pitu justru menawarkan pengalaman berbeda. Bukan hiruk-pikuk wisata modern, melainkan ketenangan desa pegunungan yang masih mempertahankan nilai tradisi dan kehidupan yang berjalan apa adanya.
Sesekali terlihat wisatawan datang karena penasaran dengan kisah Kampung Pitu yang telah dikenal luas. Mereka menikmati panorama perbukitan, berbincang dengan warga, hingga mengabadikan pemandangan dari ketinggian.
Tak jauh dari permukiman, puncak bukit juga pernah dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan penghijauan oleh berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Ratusan bibit pohon ditanam sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian kawasan karst sekaligus mendukung konservasi lingkungan di sekitar Gunung Api Purba Nglanggeran.
Sugito, salah seorang warga Kampung Pitu, mengatakan masyarakat tetap berusaha menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur sekaligus menerima kehadiran wisatawan yang ingin mengenal kampung mereka.
BACA JUGA : Tren Pendakian Tektok 2026 Jadi Keajaiban Geologi Gunung Api Purba Nglanggeran
BACA JUGA : TBC Gunungkidul Baru Terungkap 43 Persen, Kasus Tersembunyi Masih Mengintai
"Kami tetap menjaga tradisi yang sudah diwariskan. Siapa pun boleh datang berkunjung, melihat kehidupan di Kampung Pitu, selama tetap menghormati adat dan lingkungan di sini," ujar Sugito.
Selain menyimpan kisah budaya, Kampung Pitu juga menjadi bukti bahwa di tengah berkembangnya pariwisata, masih ada ruang yang mempertahankan harmoni antara manusia, alam, dan tradisi. Barangkali, justru karena hanya dihuni tujuh keluarga, kampung kecil di puncak karst ini mampu menghadirkan kedamaian yang sulit ditemukan di banyak tempat lain.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

