Harga Oli Melonjak, Pengendara dan Bengkel Jadi Serba Salah

Jumat 22-05-2026,13:55 WIB
Reporter : Dhani Irawan
Editor : Syamsul Falaq

SLEMAN, diswayjogja.id Kenaikan harga minyak pelumas ( oli ) kendaraan membuat banyak pemilik kendaraan di Kabupaten Sleman mengeluhkan membengkaknya biaya servis. Tidak hanya konsumen, pemilik bengkel pun mengaku serba salah karena harus menyesuaikan harga jual di tengah kenaikan harga dari distributor.

Wajah Riyono (58), warga Gamping, mendadak muram usai menerima nota pembayaran dari bengkel langganannya. Ia mengaku terkejut karena biaya ganti oli dan servis ringan sepeda motor yang biasanya cukup dengan uang Rp100 ribu, kini melonjak hingga Rp180 ribu.

“Saya kaget sekali. Biasanya bawa uang seratus ribu sudah cukup, ini ternyata kurang banyak. Akhirnya saya izin pulang dulu ambil uang,” ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Iwan (48). Pria yang sehari-hari bekerja di bidang jasa ini mengaku harus membatalkan rencana membeli bensin karena uang yang dibawanya habis untuk membeli oli.

BACA JUGA : Bukan Energi Listrik Saja, Begini Cara Pertamina Dorong Pemanfaatan Panas Bumi untuk Perekonomian Rakyat

BACA JUGA : Harganya Merakyat, Simak 6 Rekomendasi Kuliner Enak dari Pacitan Paling Wajib Kamu Coba

“Kaget juga mas. Saya bawa uang Rp75 ribu, ternyata ganti oli sekarang sampai Rp65 ribu. Tadinya mau isi bensin sekalian, mampir ke SPBU depan situ, tapi batal dulu.  Naiknya bikin nggak nyangka, ambil uang lagi nanggung kalau antri bensin panjang cuma isi bensin 10 ribu” katanya.

Menurut Iwan, sebelumnya oli untuk motor matic masih dijual di kisaran Rp35 ribu. Harga naik hampir dua kali lipat. Saat isi terakhir sebulan lalu katanya masih normal. 

" terakhir bulan lalu saya ganti oli cuma habis 35 ribu tapi sekarang sudah ganti harga yang tidak saya sangka, kalau di kisaran 40 ribu masih wajar, ini hampir dua kali lipat," ujarnya.

Pemilik bengkel di wilayah Gamping, Agus, mengatakan kenaikan harga terutama terjadi pada minyak pelumas motor matic,  dari sejumlah merek pabrikan. Bahkan beberapa produk mengalami kenaikan yang cukup besar,  hanya dalam sepekan ini.

BACA JUGA : Pertamina Bagikan Strategi Jaga Ketahanan Energi, Dalam Students Meet The Global Executives Bagi Mahasiswa

BACA JUGA : Jelang Rakernas 2026, PDI Perjuangan Yogyakarta Perkuat Kerja Nyata untuk Rakyat

“Kami juga serba salah. Harga bukan cuma naik, tapi ganti harga. Oli yang biasanya kami jual Rp34 ribu atau Rp35 ribu sekarang jadi Rp65 ribu, karena kami ambil dari distributor saja sudah sekitar Rp63 ribu,” ujarnya.

Agus mengaku banyak pelanggan yang terkejut dan memilih menunda servis kendaraan. Kondisi itu mulai berdampak pada omzet bengkel karena masyarakat lebih berhati-hati mengeluarkan uang untuk perawatan kendaraan.

Selain faktor distribusi dan kenaikan harga bahan baku, pelaku usaha menduga lonjakan harga juga dipengaruhi meningkatnya biaya logistik serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang memengaruhi produk pelumas berbahan impor.

Sejumlah bengkel di Sleman bahkan mulai membatasi stok oli tertentu karena harga yang terus berubah membuat mereka khawatir mengalami kerugian. Beberapa pelanggan kini juga memilih menggunakan oli dengan spesifikasi lebih rendah demi menekan pengeluaran.

BACA JUGA : Berbasis Gotong Royong, Desa Manemeng Perkuat Ekosistem Ekonomi Kerakyatan Melalui Program Desa BRILiaN

BACA JUGA : Pria P3K Sleman Ditemukan Tak Bernyawa di Seyegan, Polisi Temukan Surat Pesan

Padahal, menurut Agusk, keterlambatan mengganti oli dapat berdampak pada performa mesin dan mempercepat kerusakan kendaraan. Untuk motor harian, penggantian oli idealnya dilakukan setiap 2.000 hingga 3.000 kilometer tergantung jenis penggunaan.

Agus berharap harga minyak pelumas segera stabil agar tidak semakin memberatkan masyarakat maupun pelaku usaha kecil.

“Kalau harga oli terus tinggi, otomatis biaya operasional kendaraan ikut naik. Imbasnya ke semua usaha yang bergantung pada kendaraan, mulai ojek, kurir, pedagang sampai usaha kecil lainnya,” katanya.

Kategori :