Garebeg Besar 2026 Digelar Sederhana, Sri Sultan Akui Demi Penghematan
Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan penyederhanaan Garebeg Besar 2026 di Keraton Yogyakarta dilakukan demi penghematan anggaran. Prosesi tanpa arak-arakan gunungan ini disebut menyesuaikan efisiensi pemerintah pusat dan daerah.--dok. Pemda DIY
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memberikan penjelasan langsung terkait kebijakan penyederhanaan prosesi adat Garebeg Besar 2026 yang akan digelar pada Rabu (27/5/2026).
Dalam pelaksanaan tahun ini, seluruh rangkaian prosesi dipusatkan di internal Keraton Yogyakarta tanpa arak-arakan gunungan keluar kompleks seperti tradisi sebelumnya. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah nyata penghematan anggaran.
Sri Sultan meyatakan, keputusan itu selaras dengan kebijakan efisiensi yang tengah dilakukan pemerintah pusat maupun daerah di tengah situasi ekonomi saat ini.
“Ya penghematan aja, kabeh kan penghematan ya kan. Ya kita juga menghemat lah prinsipnya kan gitu,” ujar Sri Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (21/5/2026).
BACA JUGA : Tak Ada Gunungan Keluar Keraton Saat Garebeg Besar 2026, Ini Penjelasannya
BACA JUGA : Keraton Yogyakarta Gelar Grebeg Mulud, Gunungan Brama Dikeluarkan Khusus Tahun Dal
Menurut Sri Sultan, komponen biaya terbesar dalam pelaksanaan Garebeg selama ini berada pada mobilisasi logistik serta kirab luar ruangan yang melibatkan banyak personel.
Karena itu, pengurangan pada bagian tersebut dinilai paling rasional dilakukan untuk menyesuaikan kondisi keuangan.
“Ya kita lihat yang pemerintah APBN ya penghematan, daerah ya penghematan. Karena biaya yang terbesar itu kan di situ. Kalo biaya kecil terus penghematan kan ndak logis. Itu aja. Tapi kalau Sekaten kemungkinan prajurit kan tetap ngawal misalnya gitu, tapi pada waktu acara gunungan nggak ada. Penghematan aja,” katanya.
Meski demikian, Sri Sultan memastikan format sederhana ini tidak otomatis menjadi pola permanen bagi penyelenggaraan Garebeg pada masa mendatang.
BACA JUGA : Keraton Yogyakarta Latih Abdi Dalem Kelola Sampah, Angkat Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono di Hari Bumi
BACA JUGA : Soal Manuskrip Keraton Yogyakarta di British Library, GKR Mangkubumi: Bisa Dibahas Nanti
Keraton, kata dia, akan terus melihat perkembangan kondisi ekonomi sebelum memutuskan apakah format lengkap akan kembali digelar pada tahun-tahun berikutnya.
“Saya nggak bisa menentukan nanti kita lihat perkembangan. Kalau memang keadaan ekonominya lebih baik ya dimunculkan lagi, kita kan belum tahu,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: