Dalam akumulasi pengamatan selama 24 jam penuh pada 17 Mei 2026, BPPTKG mencatat dua kali awan panas guguran dengan amplitudo 66–68 mm dan durasi 110,5 hingga 146,36 detik.
BACA JUGA : Gunung Merapi Masih Siaga, Alami 940 Gempa Guguran dan 101 Lava Meluncur dalam Sepekan
BACA JUGA : BPPTKG: Merapi Status Siaga, Awan Panas dan Guguran Lava Masih Dominan dalam Sepekan
Sementara aktivitas guguran mencapai 149 kali, disertai 49 kali gempa hybrid, satu gempa vulkanik dangkal, serta satu gempa tektonik jauh.
“Teramati dua kali awan panas guguran ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter. Selain itu, teramati 38 kali guguran lava ke arah barat daya,” tutur Agus.
Hingga kini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
BPPTKG menegaskan potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
BACA JUGA : Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Selasa Pagi, Status Masih Siaga Level III
BACA JUGA : Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Awan Panas Guguran Terpantau Beruntun Empat Kali
Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” imbuh Agus.
BPPTKG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya, mewaspadai lahar dan awan panas guguran saat hujan turun di sekitar Merapi, serta mengantisipasi gangguan abu vulkanik.
“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” pungkasnya.