Aktvitas Vulkanik Merapi Belum Reda, Awan Panas Terjadi 7 Kali dalam Sepekan

Sabtu 18-04-2026,17:02 WIB
Reporter : Anam AK
Editor : Syamsul Falaq

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi dan belum menunjukkan tanda penurunan signifikan. Dalam sepekan terakhir, tercatat tujuh kali awan panas guguran terjadi dari gunung api aktif tersebut.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menyampaikan hal itu dalam laporan aktivitas Merapi periode 10–16 April 2026.

“Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Status aktivitas ditetapkan dalam tingkat ‘Siaga’,” ujar Agus dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/4/2026).

Sepanjang periode pengamatan, awan panas guguran tercatat meluncur sejauh maksimal 2 kilometer ke arah barat daya, tepatnya di hulu Kali Boyong, Kali Bebeng, dan Kali Sat/Putih.

BACA JUGA : Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Awan Panas Guguran Terpantau Beruntun Empat Kali

BACA JUGA : Merapi Keluarkan Awan Panas Malam Hari, Luncur 1,1 Km ke Kali Putih

Selain awan panas, aktivitas guguran lava juga masih dominan. BPPTKG mencatat puluhan hingga ratusan kejadian guguran lava di sejumlah alur sungai.

“Tercatat 11 kali guguran ke arah Kali Boyong, 85 kali ke Kali Krasak, 15 kali ke Kali Bebeng, dan 125 kali ke Kali Sat/Putih, dengan jarak luncur mencapai 2 kilometer,” katanya.

Di sisi lain, hasil pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, yang berpotensi memicu awan panas guguran di dalam kawasan rawan bencana.

BPPTKG mengungkapkan potensi bahaya masih mengancam wilayah di sektor selatan–barat daya dan tenggara.

BACA JUGA : Merapi Siaga Level III, BPPTKG Catat 2 Awan Panas Guguran Sabtu Dini Hari

BACA JUGA : Awan Panas Guguran Merapi Meluncur 1 Km ke Arah Boyong, BPPTKG Peringatkan Bahaya Lahar

“Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer,” jelas Agus.

Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, material vulkanik dapat terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak.

BPPTKG menegaskan masyarakat untuk tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana dan tetap waspada terhadap potensi bahaya sekunder.

Kategori :