Dari Hobi Mancing hingga Jadi Pengepul Utama, Suwandi Pioner Budidaya Ikan Gabus di Kulon Progo

Dari Hobi Mancing hingga Jadi Pengepul Utama, Suwandi Pioner Budidaya Ikan Gabus di Kulon Progo

Ikan Gabus dari pembudidayaan untuk kebutuhan konsumsi dengan berat 200-300gram.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

KULONPROGO, diswayjogja.id - Di tengah semakin sulitnya menemukan ikan gabus di sungai dan rawa-rawa Kulon Progo, Suwandi, warga Tawangsari, Pengasih, justru melihat peluang besar dari ikan yang selama ini dikenal sebagai sumber albumin alami tersebut.

Perjalanan Suwandi menekuni ikan gabus berawal dari hobi sederhana sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktu memancing di persawahan dan sungai di sekitar tempat tinggalnya. Hasil tangkapan biasanya dibagi dua, sebagian untuk konsumsi keluarga dan sebagian lagi dijual.

"Sejak kecil saya memang senang mencari ikan di sawah dan sungai. Dulu ikan gabus masih mudah ditemukan. Hasil tangkapan ada yang dimakan sendiri, ada yang dijual untuk menambah uang saku," kenang Suwandi.

Kebiasaan tersebut terus berlanjut hingga dewasa. Saat itu, ia mulai memiliki pelanggan tetap yang rutin membeli ikan gabus hasil tangkapannya. Pelanggan tersebut berasal dari kalangan tenaga medis yang meyakini ikan gabus sangat baik untuk membantu pemulihan pasien pascaoperasi maupun penderita luka.

BACA JUGA : Budidaya Lidah Buaya Organik, Usaha Menarik yang Jarang Dilirik

BACA JUGA : Ratusan Petani dan Pembudidaya Ikan di Sleman Masih Kesulitan, Tani Merdeka Turun Tangan

Awalnya permintaan hanya sekitar satu kilogram. Namun seiring waktu jumlahnya terus bertambah menjadi dua kilogram, lima kilogram, hingga puluhan kilogram setiap kali pemesanan.

"Saya sering kewalahan karena orang minta terus, sementara kalau mencari ikan di alam tidak selalu dapat. Dari situ saya mulai berpikir bagaimana caranya memenuhi kebutuhan pasar tanpa bergantung pada hasil tangkapan liar," ujarnya.

Permintaan yang semakin besar membuat Suwandi mengambil langkah yang saat itu masih jarang dilakukan masyarakat setempat, yakni membudidayakan ikan gabus. Keputusan tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga keberadaan ikan gabus yang populasinya terus menurun di alam.

Menurutnya, dalam lima tahun terakhir ikan gabus semakin sulit ditemukan di sungai maupun rawa. Selain karena habitat yang menyusut, karakter reproduksi ikan gabus juga berbeda dengan ikan air tawar lainnya.

BACA JUGA : Warga Cokrodiningratan Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Tabungan Lewat Budidaya Maggot

BACA JUGA : Dari Lereng Merapi, Pasutri Sleman Ingin Cetak Ribuan Peternak Baru Lewat Pelatihan Gratis

"Ikan gabus tidak menghasilkan telur sebanyak ikan lain. Induknya memiliki dua kantong telur dan tidak semuanya dikeluarkan sekaligus. Karena itu pertumbuhan populasinya di alam relatif lambat," jelasnya.

Penurunan populasi juga diperparah oleh praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan setrum hingga penembakan ikan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: