YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Forum Bahtsul Masail Kiai dan Gawagis Rembang yang digelar di PP Ma’hadul Ilmi as-Syar’i (MIS) Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menghasilkan sejumlah rumusan penting terkait dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Forum itu membahas tiga isu utama, yakni dugaan infiltrasi zionisme di tubuh PBNU, pembangkangan Tanfidhiyah terhadap Syuriah atau Rais Aam, serta berbagai persoalan yang dinilai serius dan memerlukan penyelesaian melalui pelaksanaan Muktamar NU ke-35.
Sekitar 35 kiai dan gawagis dari wilayah Rembang menghadiri forum tersebut. Dalam pernyataan hasil Bahtsul Masail yang kemudian disebut sebagai Risalah Sarang, para peserta menilai sejumlah persoalan internal PBNU telah menimbulkan kegelisahan di kalangan warga Nahdlatul Ulama dan pesantren.
“Semua permasalahan ini harus diselesaikan dalam Muktamar NU ke-35 yang dipercepat, agar kehidupan berjam’iyyah warga Nahdliyyin bisa kembali hidup dan bersatu,” ujar KH Achmad Rosich Roghibi, yang juga menjadi juru bicara forum, melalui keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).
BACA JUGA : Gejolak Internal PBNU, Warga Nahdliyin DIY Desak Penyelesaian Lewat Musyawarah Kiai
BACA JUGA : Manuskrip Fiqh al-Zakat Diteliti Ulang, UNU Jogja dan BAZNAS Hidupkan Warisan Ulama Nusantara
Dalam rumusan hasil Bahtsul Masail, terdapat tiga poin utama. Pertama, Risalah Sarang menyatakan bahwa Tanfidhiyah tidak dibenarkan menentang keputusan Syuriah. Kedua, forum menyatakan larangan kerja sama dengan zionisme. Ketiga, forum menyepakati bahwa pelaksanaan Muktamar NU ke-35 harus segera dilakukan.
KH Achmad Rosich Roghibi menegaskan, rumusan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi organisasi yang dinilai sedang mengalami konflik internal berkepanjangan.
“Forum ini merupakan respons atas kegelisahan warga NU yang merasa perlu adanya penyelesaian menyeluruh melalui mekanisme organisasi,” tuturnya.
Selain KH Achmad Rosich Roghibi, forum Bahtsul Masail juga dihadiri sejumlah tokoh pesantren dan kiai, di antaranya Dr KH Faqih Mudawam, Ketua MUI Rembang, serta para pengasuh pesantren dan tokoh NU di wilayah Rembang dan sekitarnya.
BACA JUGA : Hari Santri Nasional 2025, UNU Jogja Ajak Mahasiswa Tanamkan Empat Nilai Luhur KH Hasyim Asy’ari
BACA JUGA : UMY dan UNU Jogja Mengutuk Keras Tindakan Represif Aparat dalam Penanganan Aksi Massa
Hasil Risalah Sarang ini diharapkan menjadi bahan refleksi bagi PBNU dan seluruh elemen Nahdlatul Ulama dalam menjaga soliditas organisasi serta kesinambungan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah di tubuh NU.