‎Keindahan Negeri Padang Rumput di Perbatasan Banjarnegara

Kamis 15-01-2026,11:55 WIB
Reporter : Tri Diah Aprilia
Editor : Syamsul Falaq

diswayjogja.id – Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, selama ini dikenal sebagai gerbang utama menuju keajaiban Dataran Tinggi Dieng yang melegenda. Namun, di balik kemasyhuran Candi Arjuna dan Kawah Sikidang, tersimpan banyak kepingan sejarah dan keindahan alam yang belum sepenuhnya terjamah oleh arus utama pariwisata. Salah satu titik yang menyimpan potensi luar biasa namun masih terlelap dalam kesunyian adalah kawasan wisata Bosweisen. Terletak di Desa Bakal, Kecamatan Batur, destinasi ini menawarkan kombinasi unik antara lanskap alam yang dramatis dengan sisa-sisa jejak kebudayaan leluhur yang sangat sakral bagi masyarakat setempat.

Meskipun secara resmi telah dibuka untuk khalayak luas sejak empat tahun silam, nasib Bosweisen belum seberuntung destinasi tetangganya. Kesunyian yang menyelimuti kawasan ini bukan disebabkan oleh kurangnya daya tarik, melainkan akibat kendala klasik yang sering dihadapi oleh permata tersembunyi di pelosok daerah: aksesibilitas. Jalanan yang belum memadai dan sarana pendukung yang masih minim membuat banyak pelancong mengurungkan niat untuk berkunjung. Padahal, bagi mereka yang berani menembus batas, Bosweisen menjanjikan pengalaman spiritual dan visual yang tidak akan ditemukan di tempat lain.

Kawasan ini bukan sekadar hamparan lahan luas, melainkan sebuah narasi sejarah yang belum tuntas dituliskan. Dengan luas yang diperkirakan mencapai puluhan hektar, Bosweisen berdiri tegak di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, menjadikannya sebagai titik temu geografis yang penting. Di mata para sesepuh dan pengelola, tempat ini adalah "pusaka" yang harus dijaga martabatnya. Upaya-upaya pelestarian melalui pembangunan infrastruktur bernuansa tradisional terus dilakukan secara swadaya, meski tantangan ekonomi seringkali menjadi tembok besar yang menghalangi akselerasi pembangunannya.

Harapan kini digantungkan pada perhatian pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan. Mengingat Bosweisen memiliki kaitan erat dengan sejarah Candi Dieng, pengembangannya tidak hanya akan menambah pundi-pundi pendapatan daerah dari sektor pariwisata, tetapi juga menyelamatkan aset sejarah bangsa yang tak ternilai harganya. Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai sejarah, fasilitas yang telah ada, serta mimpi besar masyarakat Desa Bakal untuk mengubah padang rumput yang sunyi ini menjadi replika kerajaan Jawa yang megah di masa depan.

BACA JUGA : Rekomendasi Destinasi Populer untuk Merayakan Malam di Yogyakarta, Cek Ulasan Selengkapnya Berikut Ini

BACA JUGA : Menelusuri Pesona Alam Bandung, Ini Daftar Destinasi Pilihan Healing Terbaik

Menguak Sejarah dan Makna di Balik Nama Bosweisen

Secara etimologi, nama "Bosweisen" diambil dari bahasa Belanda yang memiliki arti "padang rumput". Penamaan ini sangat selaras dengan kondisi fisik kawasan yang didominasi oleh perbukitan hijau seluas lebih dari 20 hingga 40 hektar. Namun, di balik nama bernuansa kolonial tersebut, tersimpan nilai-nilai lokal yang sangat kental. Ketua pengelola objek wisata Bosweisen, Muharor, mengungkapkan bahwa kawasan ini memiliki ikatan batin dan sejarah yang sangat kuat dengan peradaban Dataran Tinggi Dieng (DTD).

Berdasarkan cerita turun-temurun yang diwariskan oleh para leluhur dan tokoh kasepuhan di kawasan Dieng, Bosweisen diyakini sebagai tempat asal-usul bebatuan yang digunakan untuk membangun Candi Dieng yang fenomenal itu. Konon, material batu purba diambil dari kawasan ini untuk kemudian dibawa dan disusun menjadi bangunan suci di pusat Dieng. Sayangnya, narasi sejarah yang luar biasa ini belum terangkum secara sistematis dalam catatan sejarah resmi, sehingga nilai historisnya masih sering terabaikan oleh para peneliti maupun wisatawan umum.

Upaya Pembenahan dan Ornamen Klasik di Desa Bakal

Meski masih menghadapi kendala keterbatasan jumlah kunjungan, Muharor dan tim pengelola tidak tinggal diam. Sejak tahun-tahun awal pembukaan, mereka terus melakukan penataan di pusat kawasan Bosweisen. Salah satu langkah nyata yang diambil adalah dengan mendirikan bangunan-bangunan berarsitektur klasik, seperti rumah Joglo. Bangunan ini bukan sekadar tempat berteduh atau dangau kecil untuk melepas lelah bagi para pendaki, melainkan representasi dari upaya mengembalikan kejayaan budaya Jawa di tanah tersebut.

Di dalam bangunan-bangunan ini, pengunjung dapat menemukan berbagai ornamen kuno yang menambah kental suasana mistis dan historis, salah satunya adalah senjata tradisional berupa trisula. Muharor menegaskan bahwa pembangunan fisik di Bosweisen didasarkan pada semangat untuk melestarikan "trah" atau garis keturunan budaya leluhur. Saat ini, beberapa bangunan fungsional telah berdiri, di antaranya adalah Pendapa Utama atau Punden yang digunakan sebagai tempat penyambutan tamu, serta Pendapa Eyang Semar yang juga dikenal sebagai Padepokan Sanggabuana. Tempat-tempat ini sering digunakan sebagai lokasi meditasi atau pertemuan spiritual bagi mereka yang menghargai nilai-nilai kearifan lokal.

BACA JUGA : Menjelajahi Pesona Tersembunyi Jadi Destinasi Liburan Menyejukkan di Magetan, Cek Informasi Lengkapnya Disini

BACA JUGA : Pesona Pariwisata Destinasi Strategis dan Sejuk di Jalur Surabaya-Malang, Berikut Informasi Selengkapnya

Potensi Wisata Alam

Kategori :