Tradisi Sewindu Jejak Banon, Sri Sultan HB X Robohkan Bata Sisi Selatan Masjid Gedhe

Jumat 05-09-2025,13:17 WIB
Reporter : Anam AK
Editor : Syamsul Falaq

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Tradisi Jejak Banon kembali digelar di kompleks Masjid Gedhe Yogyakarta, yang hanya dilakukan sekali dalam delapan tahun, pada Kamis (4/9/2025) malam.  

Tradisi Jejak Benteng, atau kerap disebut Jejak Banon, merupakan rangkaian Hajad Dalem Garebeg Mulud 1959 Dal dan dipimpin langsung oleh Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Jejak Banon hanya muncul pada Tahun Dal dalam penanggalan Jawa, sehingga kehadirannya selalu dinantikan masyarakat. 

Pada momen tersebut, Sri Sultan  melakukan simbolis “menjejak” atau merobohkan tumpukan bata yang menempel di sisi selatan Masjid Gedhe.

BACA JUGA : Rangkaian Prosesi Tradisi Sekaten Jogja, Jadi Upaya Pelestarian Budaya dan Daya Tarik Wisatawan

BACA JUGA : Tradisi Nyadhong Masa Sri Sultan HB VII Warnai Grebeg Besar 2025

Secara historis, prosesi ini untuk mengenang peristiwa sejarah ketika Pangeran Mangkubumi berusaha menyelamatkan diri dari kepungan musuh selepas salat Jumat di Masjid Gedhe.

Untuk mencari jalan keluar, dia menjejak tembok yang kemudian menjadi simbol keberanian sekaligus penyelamatan diri.

“Jejak Benteng ini untuk mengenang peristiwa masa lalu ketika Sultan menjejak tembok agar bisa keluar dari kepungan,” ujar Wawan, Sersan Serlumpet, disela prosesi tradisi Jejak Banon

Antusiasme warga dan Kehadiran Bregada

Meski hanya berlangsung sewindu sekali, tradisi ini tetap mengundang antusiasme besar. Sejak pukul 19.00 WIB, ribuan warga dan wisatawan sudah memadati halaman Masjid Gedhe untuk menyaksikan prosesi secara langsung. 

BACA JUGA : Upacara Tradisi Numplak Wajik, Prosesi Awal Keraton Yogyakarta Sambut Grebeg

BACA JUGA : Awali Pembuatan Gunungan Grebeg Besar, Keraton Yogyakarta Gelar Prosesi Numplak Wajik

Suasana semakin meriah dengan hadirnya barisan prajurit Bregada. Adapun dalam prosesinya terdapat empat bregada pokok, yakni Wirabraja, Prawiratama, Ketanggung, dan Mantrijero yang tampil gagah dengan seragam, bendera, dan senjata khas masing-masing.

“Kalo untuk hari ini, pokoknya itu ada empat. Ada Wirabraja, Prawiratama, Ketanggung sama Mantrijero. Terus untuk yang khusus nya ada Sumoatmaja sama Towok Nyutra,” kata Aldiansyah, Bregada Mantrijeron.

Prosesi Udik-udik

Kedatangan Sri Sultan Hamengku Buwono X ditandai iring-iringan Bregada Nyutra yang merupakan pengawal pribadi Sultan. 

Kategori :