Pembajun menuturkan, dalam kasus keracunan di Sleman tersebut, salah satu dugaan penyebabnya adalah makanan yang dibuat sejak malam, dan disajikan keesokan harinya. Sehingga melebihi batas waktu aman untuk dikonsumsi.
BACA JUGA : Korban Keracunan Massal Hajatan di Tempel Sleman Capai 160 Orang
BACA JUGA : Dosen Gizi UNISA Yogyakarta Soroti Penyajian Menu dan Antisipasi Potensi Keracunan Program MBG
"Tidak boleh lebih enam jam. Kalau mau disajikan pukul 08.00 WIB, ya harus dibuat jangan malam sebelumnya, itu berisiko," tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, kasus keracunan massal yang telah ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) tersebut bermula pada Sabtu (8/2/2025), dimana terdapat kegiatan hajatan pernikahan di salah satu rumah warga Dusun Krasakan, Tempel, Sleman.
Hingga Sabtu malam, sekira pukul 19.00 WIB, sebagian warga merasakan adanya demam, pusing, menggigil, diare.
Hingga kini, sembilan ambulan disiagakan dengan rincian ambulan dari PMI Kabupaten Sleman, Puskesmas Tempel, BPBD SLeman, Lazismu Tempel, Ambulan Pandowo, SAR Kaliurang, serta SAR Wonokerto.