Dinkes Jogja Pantau ISPA hingga ILI, Pastikan Belum Ada Indikasi Virus Nipah
Meramaikan Malioboro Culture Vibes dan Uji Coba Full Pedestrian, Dinas Kesehatan bersama Manajemen Plaza Malioboro melakukan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi pengunjung kawasan Malioboro dan karyawan Tenant Plazma, Rabu (3/12/2025).--dok. Dinkes Kota YK
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah, baik di Kota Yogyakarta maupun di Indonesia.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada karena virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai reservoir utama.
Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana, mengatakan secara geografis Indonesia berdekatan dengan sejumlah negara yang pernah melaporkan kasus virus Nipah seperti Malaysia, Filipina, Bangladesh, dan India. Kasus pertama virus Nipah tercatat di Malaysia pada 1998–1999.
“Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp),” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
BACA JUGA : Belum Ada Kasus, Pemda DIY Tetap Waspada Ancaman Virus Nipah
BACA JUGA : Wamenkes Ungkap Status Virus Nipah, Indonesia Sudah Aktifkan Screening Bandara
Untuk mengantisipasi potensi penularan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memperkuat surveilans kesehatan dengan memantau gejala klinis yang mengarah pada infeksi Nipah, termasuk Influenza Like Illness (ILI), ISPA akut, serta Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di seluruh puskesmas. Hingga saat ini, tidak ditemukan tren peningkatan kasus yang mengarah pada virus Nipah.
“Memang sempat ada kenaikan kasus ISPA saat isu ‘super flu’ akhir tahun lalu, tetapi tidak signifikan dan tidak mengarah ke Nipah,” katanya.
Solikhin menjelaskan gejala klinis virus Nipah umumnya diawali dengan demam tinggi akut yang dapat berkembang menjadi gangguan saraf seperti penurunan kesadaran dan kejang. Virus ini juga berpotensi menyerang otak dengan tingkat fatalitas tinggi, berkisar 40 hingga 75 persen.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau mencuci buah hingga bersih sebelum dikonsumsi serta menghindari buah yang rusak atau bekas gigitan hewan. Selain itu, nira atau air sadapan kelapa disarankan untuk dimasak terlebih dahulu guna menghindari potensi kontaminasi.
BACA JUGA : Super Flu Tak Sebahaya COVID-19, Dinkes Yogyakarta Tekankan PHBS dan Istirahat Cukup
BACA JUGA : Banyak Anak Alami Flu Berkepanjangan, Dinkes Jogja Temukan Kluster di Sekolah
“Jika buah atau nira diduga terkontaminasi, sebaiknya tidak dikonsumsi. Daging ternak juga harus dimasak hingga matang dan hindari mengonsumsi hewan yang dicurigai terinfeksi,” jelasnya.
Masyarakat juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, menerapkan etika batuk, serta memakai masker saat sakit atau berinteraksi dengan orang sakit. Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak diminta mendapat perhatian khusus.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: