Kasus DBD di Kota Yogyakarta Turun, Dinkes Tetap Waspada Wilayah Endemis Dengue

Kasus DBD di Kota Yogyakarta Turun, Dinkes Tetap Waspada Wilayah Endemis Dengue

Kegiatan pemantauan jentik nyamuk di salah satu rumah warga Kemantren Pakualaman, meski kasus DBD di Kota Yogyakarta turun pada 2025, namun Dinas Kesehatan tetap waspada karena DIY masih wilayah endemis dengue. --dok. Pemkot Jogja

YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat penurunan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang 2025, namun kewaspadaan tetap ditingkatkan karena Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih termasuk wilayah endemis dengue.

Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, mengatakan secara umum penyakit tular vektor dan zoonosis (PTVZ) di Kota Yogyakarta berada dalam kondisi terkendali.

“Kasus DBD pada 2024 tercatat 301 kasus, sedangkan pada 2025 sebanyak 270 kasus. Jadi ada penurunan, meski angkanya masih mendekati tahun sebelumnya,” ujar Anandi dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).

Menurut Anandi, DBD tetap menjadi fokus utama pengendalian karena ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang sangat adaptif di lingkungan perkotaan. Salah satu inovasi pengendalian yang dilakukan adalah penyebaran nyamuk ber-Wolbachia untuk menurunkan kemampuan nyamuk dalam menularkan virus dengue.

BACA JUGA : Dinkes Yogyakarta 249 Kasus DBD Dalam 10 Bulan, Ajak Warga Terapkan PHBS

BACA JUGA : Super Flu Tak Sebahaya COVID-19, Dinkes Yogyakarta Tekankan PHBS dan Istirahat Cukup

Monitoring tahun 2024 menunjukkan sekitar 87,2 persen populasi nyamuk di Kota Yogyakarta sudah mengandung Wolbachia,” katanya.

Namun, intervensi biologis tersebut tidak menggantikan peran masyarakat. Pengendalian utama tetap melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus yang dilakukan secara rutin minimal seminggu sekali, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, serta upaya mencegah gigitan nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan.

Selain itu, pendekatan berbasis masyarakat terus diperkuat melalui Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik, di mana setiap keluarga bertanggung jawab memantau jentik nyamuk di rumahnya. Fogging hanya dilakukan sebagai langkah terakhir jika ditemukan kasus dan Angka Bebas Jentik (ABJ) berada di bawah 95 persen, karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyasar jentik.

Terkait penyakit zoonosis lainnya, Anandi menjelaskan bahwa Kota Yogyakarta bukan wilayah endemis rabies dan tidak ditemukan kasus rabies pada manusia. Meski demikian, kunjungan pasien akibat gigitan hewan penular rabies (GHPR) tetap tinggi karena kota ini menjadi rujukan pelayanan kesehatan.

BACA JUGA : Dinkes DIY Konfirmasi Satu Kasus Super Flu H3N2 Subclade K, Pasien Bayi Sudah Sembuh

BACA JUGA : Muncul Super Flu Varian Baru, Dinkes Kota Yogyakarta Pastikan Belum Ada Lonjakan Kasus

Saat ini, dua fasilitas layanan rabies center berada di RS Pratama dan Puskesmas Jetis. Pasien yang datang tidak hanya berasal dari Kota Yogyakarta, tetapi juga dari luar daerah.

“Tidak semua gigitan perlu vaksin. Pertolongan pertama paling penting adalah mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 10–15 menit. Namun, layanan tetap kami berikan sesuai indikasi medis,” jelas Anandi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: