Kasus DBD di Kota Yogyakarta Turun, Dinkes Tetap Waspada Wilayah Endemis Dengue
Kegiatan pemantauan jentik nyamuk di salah satu rumah warga Kemantren Pakualaman, meski kasus DBD di Kota Yogyakarta turun pada 2025, namun Dinas Kesehatan tetap waspada karena DIY masih wilayah endemis dengue. --dok. Pemkot Jogja
Sementara itu, kasus malaria yang tercatat di Kota Yogyakarta mayoritas merupakan kasus impor dari wilayah endemis di Indonesia Timur, seperti Papua. Penularan tidak terjadi di dalam kota karena vektor Anopheles dan parasit malaria tidak berkembang di wilayah ini.
“Banyak pelajar, wisatawan, maupun pelaku perjalanan dinas dari wilayah endemis datang ke Yogyakarta. Saat berobat di sini, kasusnya tercatat di fasilitas kesehatan kota, meski penularannya terjadi di daerah asal,” terangnya.
BACA JUGA : Banyak Anak Alami Flu Berkepanjangan, Dinkes Jogja Temukan Kluster di Sekolah
BACA JUGA : SPPG di Yogyakarta Belum Miliki SLHS, Dinkes Imbau Ajukan Lewat Aplikasi JSS
Dinkes Kota Yogyakarta menekankan bahwa pengendalian PTVZ sangat bergantung pada konsistensi perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Genangan air di pot bunga, wadah bekas, talang air, hingga tempat minum hewan peliharaan kerap menjadi lokasi berkembang biaknya vektor penyakit.
Karena itu, penguatan edukasi, pelibatan wilayah dari tingkat RT/RW, serta gerakan masyarakat dinilai menjadi strategi utama dalam pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis di Kota Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: