Mahasiswa UMY Ciptakan Briket Tempurung Kelapa, Laku di Pasar Internasional

Mahasiswa UMY Ciptakan Briket Tempurung Kelapa, Laku di Pasar Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menciptakan inovasi briket ramah lingkungan berbahan arang tempurung kelapa yang kini diminati pasar internasional, termasuk Eropa dan Asia.--dok. UMY

BANTUL, diswayjogja.id – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil mencetak prestasi melalui inovasi produk ramah lingkungan yang berhasil menembus pasar internasional. 

Muhammad Aryo Lambang, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan angkatan 2023, bersama timnya mengembangkan briket berbahan arang tempurung kelapa yang kini diminati di Eropa dan Asia.

Inovasi briket ini lahir dari kepedulian Aryo terhadap melimpahnya limbah tempurung kelapa di Indonesia yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. 

Tempurung kelapa mengandung karbon 60–70 persen, sehingga mampu menghasilkan panas stabil dengan daya bakar hingga dua sampai tiga jam.

BACA JUGA : Cegah Super Flu di Lingkungan Kampus, Pakar UMY Ingatkan Vaksinasi dan Protokol Kesehatan

BACA JUGA : Inovasi Dosen UMY Ciptakan Alat Pengukus Bertingkat, Efisiensi Produksi Somai Naik 500 Persen

“Selama ini batok kelapa sering dianggap tidak bernilai. Padahal di luar negeri, khususnya Eropa, bahan ini justru dicari karena termasuk sumber energi hijau,” ujar Aryo dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026).

Proses produksi briket dilakukan dengan mengolah tempurung kelapa menjadi arang, kemudian dihaluskan dan dicampur dengan tepung kanji sebagai perekat sebelum dicetak menjadi briket siap pakai. Produk ini dinilai ramah lingkungan dan menjadi alternatif bahan bakar berkelanjutan pengganti energi konvensional.

Briket inovasi mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMY kini dipasarkan ke berbagai negara, seperti Prancis, Portugal, Belanda, Jepang, Korea, dan beberapa negara Asia Tenggara. Permintaan tinggi sejalan dengan meningkatnya kesadaran global terhadap energi bersih dan berkelanjutan.

“Di Indonesia, penggunaan briket masih terbatas, terutama di sektor kuliner. Namun di Eropa, kesadaran akan energi hijau sudah sangat tinggi, sehingga peluang pasarnya jauh lebih besar,” jelas Aryo.

BACA JUGA : UMY Buka Prodi AI dan Kriminologi, Jawab Tantangan Era Digital dan Sosial Modern

BACA JUGA : UMY Paparkan Sustainability Report 2024, Ada 3.800 Publikasi dan 1.200 Riset

Aryo menegaskan bahwa inovasi ini membuktikan mahasiswa Ilmu Pemerintahan tidak hanya berkutat pada kajian politik dan birokrasi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata melalui kewirausahaan berbasis lingkungan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Ilmu Pemerintahan bisa berpikir strategis, membaca peluang pasar, dan menciptakan produk yang berdampak secara ekonomi maupun lingkungan,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait