Menikmati Ritual 'Brunch' Bergaya New York di Jantung Ibu Kota Masyarakat kini lebih selektif, Cek Infonya

Menikmati Ritual 'Brunch' Bergaya New York di Jantung Ibu Kota Masyarakat kini lebih selektif, Cek Infonya

Estetika Neoklasik di The Nineteen Jakarta--

diswayjogja.id – Gaya hidup masyarakat urban di kota metropolitan seperti Jakarta terus mengalami pergeseran yang menarik, terutama dalam cara mereka menghabiskan waktu luang di akhir pekan. Setelah menjalani rutinitas pekerjaan yang padat dan penuh tekanan dari Senin hingga Jumat, momen Sabtu dan Minggu sering kali dianggap sebagai waktu yang sakral untuk memulihkan energi. Salah satu tren yang kini semakin mendarah daging adalah pencarian pengalaman kuliner yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga mampu memberikan ketenangan batin dan ruang untuk bersosialisasi tanpa terburu-buru.

Dalam ekosistem kuliner modern, makanan bukan lagi sekadar pemuas rasa lapar, melainkan sebuah bentuk apresiasi diri. Masyarakat kini lebih selektif dalam memilih destinasi makan, dengan mempertimbangkan aspek estetika tempat, kualitas bahan baku, hingga narasi yang dibawa oleh restoran tersebut. Hal inilah yang mendorong munculnya berbagai konsep unik yang menggabungkan kenyamanan rumah dengan kemewahan layanan profesional, menciptakan sebuah standar baru dalam menikmati waktu istirahat di tengah hiruk-pikuk kota yang tidak pernah tidur.

Fenomena ini juga melahirkan kembali popularitas ritual makan yang dikenal dengan sebutan brunch. Istilah yang merupakan gabungan dari breakfast (sarapan) dan lunch (makan siang) ini menjadi solusi sempurna bagi mereka yang ingin bangun lebih siang di hari libur namun tetap ingin menikmati hidangan berkualitas sebelum waktu makan siang tiba. Brunch bukan sekadar tentang jadwal makan yang fleksibel, melainkan sebuah budaya yang merayakan kelambatan, percakapan mendalam, dan kebersamaan di atas meja makan yang tertata cantik.

Melihat tingginya antusiasme terhadap gaya hidup ini, sejumlah restoran kelas atas mulai berlomba-lomba mengemas program khusus yang mampu menangkap esensi dari kemewahan akhir pekan tersebut. Salah satu yang mencuri perhatian adalah upaya sebuah destinasi fine dining terkemuka yang mencoba membawa suasana metropolitan New York ke Jakarta. Melalui kurasi menu yang matang dan atmosfer yang dirancang sedemikian rupa, mereka menawarkan lebih dari sekadar makanan, melainkan sebuah pelarian sejenak dari kesibukan duniawi.

BACA JUGA : Sejak 1950 Ini Daftar Destinasi Kuliner Legendaris dan Ikonik di Yogyakarta, Simak Informasi Selengkapnya

BACA JUGA : Jelajahi Tempat Jajan Populer dan Cukup Viral di Bandung, Cek Ulasannya Berikut Ini

Asal-Usul dan Filosofi di Balik Budaya Brunch

Secara historis, brunch bukanlah konsep baru dalam dunia gastronomi. Akar dari tradisi ini dapat ditarik kembali ke Inggris pada penghujung abad ke-19. Adalah Guy Beringer, seorang penulis yang pada tahun 1895 pertama kali mempopulerkan istilah tersebut melalui esainya. Ia mengusulkan sebuah konsep makan yang lebih santai pada hari Minggu bagi mereka yang menghabiskan malam Minggu dengan berpesta atau bersosialisasi hingga larut. Ide utamanya adalah menciptakan suasana makan yang ceria dan ringan, di mana orang-orang bisa saling bertukar cerita tanpa beban jam makan yang kaku.

Seiring berjalannya waktu, budaya ini menyeberangi Samudra Atlantik dan meledak di Amerika Serikat pada era 1930-an, sebelum akhirnya menjadi fenomena global yang diadopsi oleh berbagai negara. Saat ini, brunch telah bertransformasi menjadi momen sosial yang prestisius. Biasanya, ritual ini dilakukan di antara pukul 11.00 pagi hingga 15.00 sore, sebuah rentang waktu emas di mana matahari mulai meninggi namun suasana hati masih dalam mode relaksasi total. Di Jakarta, tren ini disambut hangat oleh kaum profesional dan pecinta kuliner yang mencari alternatif hiburan akhir pekan yang berkelas.

Estetika Neoklasik di The Nineteen Jakarta

The Nineteen, sebuah restoran yang dikenal dengan standar fine dining-nya, baru-baru ini meluncurkan sebuah program bertajuk "A Brunch Affair". Program ini dirancang khusus untuk mengubah persepsi tentang makan akhir pekan yang biasa menjadi sebuah perayaan cita rasa yang elegan. Begitu tamu melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran, mereka akan segera disambut oleh arsitektur bergaya neoklasik yang memancarkan kemewahan namun tetap terasa hangat dan mengundang.

Interior restoran ini memiliki dua kepribadian unik yang bisa dipilih sesuai suasana hati tamu. Sisi pertama didesain menyerupai perpustakaan pribadi yang klasik, lengkap dengan jajaran buku-buku sastra, ensiklopedia, dan karya fiksi yang tertata rapi di rak-rak kayu besar. Dominasi warna-warna hangat di area ini menciptakan privasi yang nyaman bagi mereka yang ingin berbincang lebih intim. Sementara itu, sisi lainnya menawarkan suasana yang lebih terbuka dan segar dengan atap kaca transparan yang membiarkan cahaya alami matahari menyinari ruangan. Dihiasi dengan bunga flamboyan merah yang mencolok, lukisan artistik, serta tirai beludru, area ini memberikan kesan mewah yang fotogenik bagi para pengunjung.

Seri "American Classics"

Fokus utama dari program "A Brunch Affair" kali ini adalah seri American Classics. Menu yang disajikan merupakan interpretasi ulang dari berbagai hidangan comfort food populer di Amerika, namun dengan sentuhan teknik memasak tingkat tinggi. Rahmat Ismail, selaku General Manager The Nineteen Jakarta, menjelaskan bahwa inspirasi utama mereka adalah gaya hidup masyarakat di New York yang sangat menggemari momen makan di antara pagi dan siang hari. Menurutnya, budaya ini sangat relevan dengan masyarakat Jakarta yang di akhir pekan sering kali merasa terlalu siang untuk sarapan namun terlalu pagi untuk makan siang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: