Menjaga Keselamatan dan Ekosistem, Jalur Pendakian Gunung Tambora Resmi Ditutup Sementara

Menjaga Keselamatan dan Ekosistem, Jalur Pendakian Gunung Tambora Resmi Ditutup Sementara

Gunung Tambora--

diswayjogja.id – Memasuki penghujung tahun 2025, dinamika cuaca di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menunjukkan perubahan yang signifikan. Angin kencang, curah hujan yang tinggi, serta kabut tebal kerap kali menyelimuti dataran tinggi, menciptakan tantangan tersendiri bagi para pencinta alam yang gemar melakukan pendakian. Situasi ini menuntut kesiapsiagaan dari pihak otoritas terkait untuk memastikan bahwa aktivitas wisata di alam terbuka tidak berubah menjadi tragedi akibat kondisi lingkungan yang ekstrem. Keselamatan manusia tetap menjadi prioritas utama di tengah animo masyarakat yang besar untuk merayakan pergantian tahun di puncak-puncak gunung.

Gunung Tambora, yang dikenal dengan sejarah letusan dahsyatnya, selalu menjadi magnet bagi pendaki domestik maupun mancanegara. Keindahan kalderanya yang luas dan jalur pendakiannya yang menantang memberikan daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin menapakkan kaki di "Atap Sumbawa". Namun, seiring dengan meningkatnya intensitas hujan di wilayah Sumbawa, risiko kecelakaan di jalur pendakian seperti pohon tumbang, tanah longsor, hingga hipotermia menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi sejak dini oleh pengelola kawasan taman nasional.

Selain faktor keselamatan manusia, aspek konservasi lingkungan juga menjadi alasan kuat di balik setiap kebijakan penutupan jalur pendakian. Jalur yang terus-menerus dilewati manusia membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan diri secara ekologis. Injakkan kaki pendaki, sampah yang mungkin tertinggal, serta gangguan terhadap satwa liar selama musim liburan yang sibuk memerlukan periode tenang agar ekosistem dapat melakukan regenerasi secara alami tanpa campur tangan manusia. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Oleh karena itu, Balai Taman Nasional Tambora (BTNT) secara resmi mengambil langkah preventif dengan menghentikan seluruh aktivitas pendakian dalam waktu dekat. Kebijakan ini diambil setelah melalui berbagai pertimbangan matang mengenai prakiraan cuaca dan kondisi lapangan terkini. Bagi masyarakat dan para pendaki yang sudah merencanakan perjalanan menuju puncak Tambora, sangat penting untuk menyimak detail informasi mengenai waktu pelaksanaan dan tujuan dari kebijakan ini agar dapat menyesuaikan jadwal perjalanan mereka di masa mendatang.

BACA JUGA : Tutup Sementara Waktu, Ini Daftar Gunung dan Status Jalur Pendakian Akhir Tahun Berikut Info Lengkapnya

BACA JUGA : Penutupan Jalur Pendakian Gunung Rinjani Selama Tiga Bulan Mulai Januari 2026

Kebijakan Resmi Pengelola Taman Nasional

Pemerintah melalui Balai Taman Nasional Tambora telah menetapkan keputusan untuk menutup sementara seluruh akses menuju puncak gunung tersebut. Instruksi resmi ini mulai diberlakukan pada hari Minggu, 28 Desember, sebagai respons terhadap kondisi yang tidak memungkinkan untuk aktivitas pendakian yang aman. Keputusan ini diumumkan secara langsung oleh pihak berwenang sebagai langkah antisipasi menyeluruh agar tidak ada pihak yang terjebak dalam situasi berbahaya saat berada di atas gunung.

Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Abdul Aziz, menegaskan bahwa segala bentuk kegiatan wisata yang melibatkan pendakian di kawasan tersebut harus dihentikan untuk sementara waktu. Pernyataan yang disampaikan pada Sabtu (27/12) ini menjadi rujukan bagi seluruh elemen terkait, mulai dari petugas lapangan hingga para pelaku usaha pariwisata yang menggantungkan hidupnya di kawasan lereng gunung. Langkah ini dipandang sebagai prosedur operasional standar yang krusial setiap kali memasuki musim penghujan yang ekstrem.

Masa Berlaku dan Jangkauan Penutupan

Penutupan jalur pendakian ini tidak hanya berlaku untuk satu atau dua jalur saja, melainkan mencakup seluruh rute resmi yang biasanya digunakan oleh para pendaki. Mulai hari Minggu besok, semua pos penjagaan tidak akan lagi memberikan izin pendakian kepada siapa pun. Kebijakan ini bersifat dinamis, yang berarti durasi penutupan belum bisa dipastikan hingga tanggal tertentu. Pihak pengelola akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan sebelum memutuskan untuk membuka kembali jalur-jalur tersebut.

Meskipun belum ada tanggal pasti kapan pendakian akan dibuka kembali, pihak otoritas berjanji akan memberikan pembaruan informasi secara berkala. Keputusan pembukaan nantinya akan sangat bergantung pada laporan tim lapangan mengenai kelayakan jalur serta informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait stabilitas cuaca. Hal ini bertujuan agar saat jalur dibuka nanti, kondisi lingkungan sudah benar-benar stabil dan aman bagi para pelancong.

BACA JUGA : Healing Terbaik dengan Daya Tarik Pesisir Gunungkidul Paling Memikat Hati, Cek Disini

BACA JUGA : 5 Pilihan Tempat Wisata di Gunungkidul dengan View Alam Menarik Memanjakan Mata, Cek Disini

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: