Diversifikasi Pertanian Sleman, Pisang Cavendish Mulai Tembus Pasar Modern

Diversifikasi Pertanian Sleman, Pisang Cavendish Mulai Tembus Pasar Modern

Diversifikasi Pertanian Sleman, Pisang Cavendish Mulai Tembus Pasar Modern--FOTO : Istimewa

SLEMAN, diswayjogja.id – Kabupaten Sleman terus memiliki peluang untuk mengembangkan sektor pertanian melalui diversifikasi komoditas bernilai ekonomi. Tidak hanya mengandalkan salak pondoh yang selama ini menjadi salah satu buah andalan daerah, pengembangan pisang Cavendish mulai menunjukkan potensi sebagai alternatif usaha pertanian yang menyasar pasar modern.

Potensi tersebut didukung oleh beragam komoditas buah yang dibudidayakan di Sleman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sleman, produksi pisang pada 2025 mencapai 37.532,77 kuintal atau sekitar 3.753 ton. Sementara itu, produksi salak mencapai 412.659,60 kuintal atau sekitar 41.266 ton. Data tersebut menunjukkan bahwa pisang telah menjadi bagian dari produksi buah-buahan di Sleman, meskipun volumenya masih jauh di bawah salak.

Salah satu pengembangan budidaya pisang Cavendish dilakukan Rocky, pemilik kios buah di Pasar Pusat Gamping. Ia menyewa lahan seluas sekitar 1,5 hektare di Gancahan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Godean, untuk mengembangkan perkebunan pisang yang dikelola secara terencana dengan orientasi pasar.

Perkebunan yang telah berjalan sekitar tiga tahun tersebut memiliki kurang lebih 3.000 pohon pisang. Pada awal pengelolaannya, Rocky melibatkan tujuh pekerja untuk melakukan perawatan tanaman, membersihkan lahan, menyemprot tanaman, serta mengolah tanah agar pertumbuhan pisang tetap optimal.

BACA JUGA : Laznas BMH dan Baitul Wakaf Resmikan Program Pertanian Pisang Cavendish di Sleman

BACA JUGA : Filosofi Empat 'Guru' dari Petani Seyegan untuk Masa Depan Pertanian Indonesia

“Setiap hari, Pak,” ujar Andi, salah seorang pekerja asal Moyudan, saat menjelaskan aktivitas perawatan tanaman di perkebunan kepada media Minggu (18/10/2026).

Menurut Andi, pisang Cavendish memiliki siklus panen yang relatif cepat. Panen pertama dapat dilakukan ketika tanaman berusia sekitar delapan bulan. Setelah itu, tanaman dapat terus menghasilkan buah melalui tunas-tunas baru selama kondisi tanaman terjaga dan perawatannya dilakukan secara konsisten.

Ketika tanaman induk dipanen, tunas yang tumbuh di sekitarnya umumnya telah berkembang cukup besar. Sekitar tiga bulan setelah panen pertama, tunas-tunas tersebut berpotensi menghasilkan buah yang siap dipanen. Siklus ini dapat berlanjut selama tanaman tumbuh sehat dan terhindar dari gangguan hama maupun penyakit.

Dengan jumlah tanaman mencapai ribuan pohon, pemanenan dilakukan secara bertahap agar pasokan buah dapat tersedia secara berkelanjutan. Produksi tidak hanya bergantung pada satu waktu panen, tetapi juga pada pengelolaan tanaman dan pertumbuhan tunas baru.

BACA JUGA : Bantul Pacu Pertanian, Target Luas Tanam 35 Ribu Hektare

BACA JUGA : Dinas Pertanian Yogyakarta Pastikan Daging Sapi di Pasar Aman Jelang Akhir Tahun

“Bahkan, pernah ada satu minggu ketika kami memanen 120 tandan,” ungkap Andi.

Selain budidaya, penanganan pascapanen menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas pisang sebelum dipasarkan. Pisang Cavendish dipanen ketika buah telah cukup umur, tetapi kulitnya masih berwarna hijau.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait