Upah dan Lapangan Kerja Terbatas, Tapi Warga Jogja Bahagia: Ada Apa dengan Masyarakat DIY?

Upah dan Lapangan Kerja Terbatas, Tapi Warga Jogja Bahagia: Ada Apa dengan Masyarakat DIY?

Yogyakarta menyimpan sebuah anomali sosial-ekonomi yang menarik untuk dicermati. Di satu sisi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikenal memiliki upah minimum yang relatif rendah dan persoalan keterbatasan lapangan kerja, tapi indeks kebahagiaannya tinggi.--istimewa-Dok.UGM

YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Yogyakarta menyimpan sebuah anomali sosial-ekonomi yang menarik untuk dicermati. Di satu sisi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikenal memiliki upah minimum yang relatif rendah dan persoalan keterbatasan lapangan kerja. Tingkat kemiskinan DIY juga masih menjadi salah satu yang tertinggi di Pulau Jawa.

Namun di sisi lain, sejumlah indikator kualitas hidup masyarakat justru menunjukkan gambaran yang berbeda. DIY dikenal memiliki Indeks Kebahagiaan yang tinggi, sementara Angka Harapan Hidup masyarakatnya juga termasuk yang tinggi secara nasional.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana masyarakat dapat tetap merasakan kebahagiaan ketika kondisi ekonomi dan kesempatan kerja belum selalu ideal?

Pemerhati filsafat Jawa sekaligus lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Agus Widiyanto, melihat fenomena tersebut tidak semata-mata dapat dijelaskan melalui ukuran ekonomi. Menurutnya, ada nilai-nilai kehidupan yang telah lama menjadi bagian dari cara masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Jogja, dalam memandang kehidupan.

BACA JUGA : Kebun Anggur Jadi Ruang Bahagia Lansia Gunungkidul, Kurangi Kesepian di Usia Senja

BACA JUGA : ‘Telur Bahagia’ GENTING Sleman: Kolaborasi Baznas dan Bank Sleman Percepat Penurunan Stunting Anak

Ia menyebut setidaknya ada tiga filosofi Jawa yang dapat digunakan untuk membaca fenomena tersebut adalah Nrimo ing Pandum, Bukan Berarti Pasrah

“Nrimo ing pandum itu bukan berarti menyerah atau tidak mau berusaha. Lebih pada kemampuan menerima apa yang menjadi bagian kita setelah melakukan ikhtiar,” ujar Agus kepada diswayjogja, Kamis (3/9/2026)

Menurutnya, kemampuan menerima keadaan dapat membuat seseorang tidak terus-menerus membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Dalam  kehidupan modern, tekanan sosial sering muncul karena seseorang mengukur keberhasilan berdasarkan kepemilikan materi, jabatan, maupun status sosial.

“Kalau ukuran kebahagiaan hanya materi, maka seseorang akan selalu merasa kurang. Ketika melihat orang lain punya lebih banyak, muncul iri, kecewa, dan stres. Filosofi nrimo mengajarkan bagaimana kita berdamai dengan apa yang kita miliki tanpa berhenti berusaha,” katanya.

BACA JUGA : Digelar Dua Pekan, 38 Calon Paskibraka Ikuti Pemusatan Pelatihan di Desa Bahagia

BACA JUGA : Sleman Naikkan IPM dengan Fokus Pendidikan dan Kesehatan

Kedua menurut Agus adalah Alon-Alon Waton Kelakon. Filosofi kedua adalah alon-alon waton kelakon. Agus menilai ungkapan tersebut bukan ajakan untuk bermalas-malasan atau bekerja lambat.

“Alon-alon waton kelakon bukan berarti tidak punya target. Maknanya lebih pada bagaimana menjalani proses dengan sabar, tidak terburu-buru, tetapi tetap sampai pada tujuan,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: