Merapi Kembali Erupsi Guguran, Awan Panas Meluncur 2 Kilometer Selasa Pagi

Merapi Kembali Erupsi Guguran, Awan Panas Meluncur 2 Kilometer Selasa Pagi

Gunung Merapi kembali mengalami awan panas guguran pada Selasa (11/8/2026) pagi sejauh 2 kilometer ke arah barat daya. Status Merapi masih Level III atau Siaga.--dok. Induk Frekom 86

BPPTKG menyebut potensi bahaya Gunung Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sejumlah sektor. Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer. Sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga maksimal 7 kilometer.

Pada sektor tenggara, potensi bahaya berada di Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

“Selain itu, apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak,” jelasnya.

BACA JUGA : Marak Pendakian Gunung Merapi, TNGM Siapkan Dialog dengan Warga daripada Penjagaan Ketat

BACA JUGA : Sri Sultan HB X: Warga Lereng Sudah Paham Risiko, Wisatawan Sebaiknya Jangan Mendaki Merapi

Data pemantauan juga menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apapun di kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya. Masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama ketika terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.

Selain itu, warga di wilayah yang berpotensi terdampak diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Merapi.

BPPTKG menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.

"Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya dan alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta mematuhi rekomendasi resmi," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait