Bahasa Walikan Jogja dan Malang Sama-sama Dibalik, Tapi Rumusnya Berbeda 180 Derajat

Bahasa Walikan Jogja dan Malang Sama-sama Dibalik, Tapi Rumusnya Berbeda 180 Derajat

Bahasa Walikan Jogja dan Malang Sama-sama Dibalik, Tapi Rumusnya Berbeda 180 Derajat--FOTO : Ist/diswayjogja.id

YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Sekilas sama-sama disebut bahasa walikan, tetapi sistem yang digunakan masyarakat Yogyakarta dan Malang ternyata berbeda jauh. Jika bahasa walikan Malang cukup membalik urutan huruf atau suku kata sesuai pola yang berkembang dalam percakapan, bahasa walikan Yogyakarta justru menggunakan rumus khusus yang berpatokan pada aksara Jawa atau Hanacaraka.

Perbedaan inilah yang membuat bahasa walikan Jogja dinilai lebih rumit karena setiap huruf harus dikonversi berdasarkan pasangan aksara tertentu, bukan sekadar dibaca dari belakang.

Bahasa walikan Yogyakarta menggunakan empat baris dasar aksara Jawa, yakni:

Ha Na Ca Ra Ka

Da Ta Sa Wa La

Pa Dha Ja Ya Nya

Ma Ga Ba Tha Nga

BACA JUGA : Fasih Berbahasa Inggris, Endah Suseno Jadi Jembatan Wisatawan Dunia Mengenal Kotagede

BACA JUGA : Bahasa Jawa Bukan Feodal, tapi Peradaban: Sleman Tegaskan Komitmen Lestarikan Tradisi

Rumusnya adalah menukar baris pertama dengan baris ketiga, sedangkan baris kedua ditukar dengan baris keempat. Posisi lajur tetap sama.

Artinya, huruf ha berubah menjadi pa, na menjadi dha, ca menjadi ja, ra menjadi ya, ka menjadi nya. Sementara da menjadi ma, ta menjadi ga, sa menjadi ba, wa menjadi tha, dan la menjadi nga. Vokal a, i, u, e, o mengikuti huruf penggantinya.

Contoh paling populer adalah kata matamu. Kata itu diubah menjadi Dagadu. Huruf ma berubah menjadi da, ta menjadi ga, dan mu menjadi du. Dari sinilah kemudian lahir nama merek cendera mata legendaris Yogyakarta, Dagadu, yang berarti "matamu" dalam bahasa walikan Jogja.

Berbeda dengan Yogyakarta, bahasa walikan Malang atau yang dikenal sebagai Osob Kiwalan berkembang dengan pola pembalikan kata yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipelajari. Misalnya arek Malang menjadi kera Ngalam, singo edan menjadi ongis nade, sedangkan muleh dapat berubah menjadi helum sesuai pola pembalikan yang digunakan masyarakat Malang. Dalam perkembangannya, Osob Kiwalan juga memiliki sejumlah variasi fonologis sehingga tidak semua kata selalu dibalik secara harfiah.

BACA JUGA : Balai Bahasa DIY Percepat Digitalisasi Tradisi Lisan agar Aset Budaya Tak Hilang

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: