Bahasa Walikan Jogja dan Malang Sama-sama Dibalik, Tapi Rumusnya Berbeda 180 Derajat
Bahasa Walikan Jogja dan Malang Sama-sama Dibalik, Tapi Rumusnya Berbeda 180 Derajat--FOTO : Ist/diswayjogja.id
BACA JUGA : Upacara Bahasa Brebesan dan Sunda Hingga Kirab Budaya, Wujud Akulturasi Identitas Hari Jadi Brebes 348
Sejarawan dan berbagai literatur menyebut bahasa walikan Malang awalnya berkembang sebagai sandi komunikasi para pejuang Gerilya Rakyat Kota (GRK) pada masa Agresi Militer Belanda sekitar 1949. Bahasa tersebut diciptakan agar strategi perjuangan tidak mudah dipahami mata-mata Belanda. Setelah perang usai, bahasa itu terus hidup dan berkembang menjadi identitas khas masyarakat Malang.
Sementara itu, menurut penjelasan Paniradya Kaistimewan DIY, bahasa walikan Yogyakarta juga diyakini telah lama digunakan sebagai bahasa pergaulan sekaligus sandi komunikasi. Bedanya, sistemnya dibangun berdasarkan struktur Hanacaraka sehingga memiliki pakem yang jelas dan konsisten.
Secara sederhana, perbedaan keduanya dapat dilihat dari dasar pembentukannya. Bahasa walikan Jogja menggunakan sistem substitusi berdasarkan aksara Jawa sehingga membutuhkan pemahaman terhadap Hanacaraka. Sebaliknya, bahasa walikan Malang berangkat dari pembalikan kata yang kemudian berkembang menjadi berbagai pola dalam Osob Kiwalan.
Meski sama-sama lahir sebagai bahasa sandi dan kini menjadi identitas daerah, keduanya menunjukkan kreativitas masyarakat Jawa dalam mengolah bahasa. Jogja menghadirkan sistem yang terikat pada filosofi aksara Jawa, sedangkan Malang mengembangkan bahasa walikan yang lebih spontan dan mudah digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

