Tak Sekadar Bagi Telur, Bantul Tekan Gizi Buruk dari Rumah ke Komunitas
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Bantul Abedgeno Dani Nugroho memberikan keterangan kepada media terkait perkembangan program intervensi gizi dan penanganan stunting di Bantul.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
Meski demikian, ia menekankan bahwa stunting masih memerlukan perhatian khusus.
BACA JUGA : Hasil Lab Keracunan Mahasiswa Ditunggu 7 Hari, Dinkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
BACA JUGA : Dinkes Bantul Pastikan Layanan Kesehatan Tetap Normal Selama Natal, 100 Tenaga Medis Disiagakan
Berbeda dengan masalah akut yang dapat dipulihkan dalam waktu relatif singkat, stunting berkaitan dengan kondisi kronis yang dipengaruhi oleh asupan gizi jangka panjang, kesehatan ibu, sanitasi, hingga pola asuh.
Karena itu, Dinkes Bantul mendorong keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah desa, sekolah, kader kesehatan, hingga sektor swasta, untuk memperkuat upaya pencegahan sejak dini.
Edukasi kepada orang tua tentang menu bergizi berbasis bahan lokal dan pemantauan rutin tumbuh kembang anak menjadi bagian dari strategi yang terus diperluas.
“Hanya saja, stunting masih menjadi perhatian khusus. Harapannya, semua pihak bisa terlibat,” tambahnya.
Ke depan, pemerintah daerah menargetkan integrasi program gizi dengan layanan kesehatan ibu dan anak, perbaikan sanitasi lingkungan, serta penguatan peran komunitas.
Dengan pendekatan kolaboratif, Bantul berharap mampu menurunkan angka stunting secara bertahap sekaligus mempertahankan tren penurunan gizi buruk dan wasting.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: