Sleman Siapkan Strategi Pertanian Adaptif Hadapi Perubahan Iklim dan Tantangan Pancaroba
Plt. Kadis Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman, Rofiq Andriyanto, saat jumpa pers beberapa waktu lalu, menjelaskan strategi pertanian adaptif menghadapi cuaca ekstrem--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id - Pemerintah Kabupaten Sleman tengah melakukan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan kondisi ekonomi yang fluktuatif, terutama pada masa pancaroba dari musim kemarau menuju musim hujan.
Plt. Kadis Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman, Rofiq Andriyanto, menekankan pentingnya adaptasi sektor pertanian terhadap kondisi lingkungan.
“Perubahan cuaca ekstrem memicu peningkatan serangan hama dan penyakit pada tanaman, hewan ternak maupun perikanan,” katanya, Selasa (25/11/2025).
Untuk menghadapi hal tersebut, Sleman mendorong pemilihan tanaman yang tahan terhadap kondisi air terbatas seperti palawija, kacang hijau, cabai, jagung, kacang tanah, dan tanaman kering lainnya.
Sedangkan untuk padi, sistem tanam berbasis analisis dan sharing agriculture diterapkan agar produktivitas tetap optimal meski kondisi air dan lingkungan berubah.
Di sektor perikanan, pemerintah merekomendasikan budidaya ikan non-sisik, seperti lele, karena lebih adaptif terhadap perubahan kualitas air.
BACA JUGA : DPRD Bantul Revisi Perda LP2B Sebut Sawah Tak Boleh Tumbang oleh Betonisasi
BACA JUGA : Eksotis dan Sangat Menyejukkan, Berikut Destinasi Sawah Terasering Terbaik di Pulau Bali
“Terkait kesehatan hewan, kami menyediakan subsidi antibiotik dan vitamin untuk mendukung daya tahan ternak. Penggunaan antibiotik ini bukan untuk menaikkan bobot secara instan, melainkan lebih sebagai pencegahan penyakit," ucapnya.
Pemkab Sleman menekankan pentingnya sanitasi lingkungan dalam menjaga produktivitas pertanian, peternakan, dan keberlanjutan pangan.
Upaya ini tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dan peradaban pertanian yang berkelanjutan.
"Sanitasi kandang menjadi poin penting agar sumber penyakit dapat diminimalkan. Prinsipnya, penyakit selalu muncul dari lingkungan yang tidak bersih," tuturnya.
Hal yang sama juga berlaku di sektor persawahan.
"Sanitasi lahan, kebersihan gulma, dan tata kelola air juga penting untuk memaksimalkan hasil produksi dan mencegah organisme pengganggu tanaman," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: