Dinkes Sleman Turunkan Angka Stunting Jadi 4,2%, Ternyata Ini Rahasianya

Dinkes Sleman Turunkan Angka Stunting Jadi 4,2%, Ternyata Ini Rahasianya

dr. Cahya Purnama memberikan keterangan tentang upaya pencegahan stunting di Kabupaten Sleman, loby gedung lama Setda Sleman, Selasa (28/10/2025).--Foto: Kristiani Tandi Rani/Diswayjogja.id

BACA JUGA :  Wamendiktisaintek Fauzan Ajak Kampus Aktif Atasi Kasus MBG dan Stunting

BACA JUGA : Soal Laporan Dugaan Korupsi Proyek Kereta Cepat Whoosh, Ketua KPK Setyo Budiyanto: Masih Ditelaah

Ia menekankan pentingnya keselarasan antara visi pemerintah dengan program kerja di lapangan. 

“Kita harus memastikan program kesehatan tidak hanya berjalan, tetapi juga selaras dengan upaya mewujudkan keadilan sosial ekonomi masyarakat,” sebutnya.

Data terbaru menunjukkan angka stunting di Sleman pada tahun 2025 berada di angka 4,29% atau 4,2%, sedikit menurun dari 4,41% pada 2024. 

Penurunan ini dinilai signifikan meskipun sebagian kegiatan diseminasi program kesehatan belum sepenuhnya diikuti semua pihak.

“Penurunan dari 4,4% menjadi 4,2% ini patut diapresiasi, tetapi kita tidak boleh berpuas diri. Ada beberapa determinan utama stunting yang perlu terus diantisipasi, mulai dari pola makan balita, edukasi keluarga, hingga keterlibatan pemuda di tingkat desa,” ucapnya. 

Selain itu, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun ini tidak dilakukan karena pemerintah pusat menyatakan SSGI tidak lagi dilaksanakan setiap tahun. 

BACA JUGA : Wabup Sleman Luncurkan Inovasi “Kenceng” di Turi, Strategi Baru Tekan Stunting Menuju Generasi Sehat

BACA JUGA : Sleman Bergerak Cepat: Monev Stunting 2025 Perkuat Koordinasi Lintas Sektor Demi Generasi Sehat dan Cerdas

Kewenangan pengukuran kini lebih banyak berada di kabupaten melalui E-PPGBM, yang dianggap lebih menyeluruh karena balita diukur langsung di lapangan. 

Penyelenggaraan SSGI diperkirakan akan dilakukan tiga tahun sekali, menunggu keputusan resmi pusat.

Para narasumber lain menekankan bahwa keterlibatan masyarakat dan generasi muda menjadi faktor penting dalam penurunan stunting. 

Program inovatif yang melibatkan posyandu, sekolah, serta organisasi pemuda, diyakini dapat mempercepat perubahan.

“Pemuda tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan di masyarakat. Dengan melibatkan mereka, program kesehatan akan lebih tepat sasaran,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: